Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
Sebuah kisah kecil seorang santri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung yang mana ia secara singkat dan mendadak tertunjuk menjadi qori’ saat dia sakit berdahak. Sebelumnya ia pernah memberikan petuah, “Apapun acaranya kasih kabar kepadaku sebelum H-7, agar bisa dipersiapkan secara matang dan bagus.” Kabar ini justru malah berkebalikan, ia malah terteguk satu hari sebelum acara dilaksanakan. Karena sebuah amanah dan tidak dapat ditolak, akhirnya mau tidak mau ia menerima undangan tak tertulis sebagai pembaca ayat suci al-Qur’an dalam acara Bedah Buku Pesantren Pluralisme pada awal Desember 2019. Melihat undangan jadi mengingatkan kepada suatu hadis yang bertuliskan “Waidza da’aka fa ajibhu” maknanya jika dipanggil dalam maksud diundang maka penuhilah yang dikemukakan oleh Rasulullah sebagai salah satu 6 hak muslim terhadap muslim.Persiapan kurang satu hari merupakan hal yang terberat dirasakan si Khafidz. Karena mencari posisi nyaman dan posisi suara yang pas cukup menyulitkan bagi undangan musiman, bukan latihan atau melatih harian. Dalam pernafasan ada titik tertentu untuk mengolah atau mengeluarkan nafas dengan karakteristik masing-masing. Ada pernafasan hidung, dada dan perut. Hidung cenderung singkat dan menyakitkan tenggorokan, biasanya bagi penyair suara ia akan tersiksa bagian hidung telinga bahkan kepala bisa jadi sedikit memusingkan. Sedangkan dada ia masih belum tahu apa keunggulannya, tetapi memang dada cenderung membesar, sedangkan yang akhir mayoritas qori’ qori’ah cenderung memakai perut, karena ia lebih nyaman dan panjang saat dilagukan. Tentunya sedikit lebih tinggi tanpa beban di nada suaranya.
Tanpa beban ia menunggu waktu esok paginya. Khafidz tak ingin terbebani secara mental akibat rasa takut berlebihan yang membuat hati ragu dan terkucilkan saat berhadapan dengan netizen yang maha dinyamankan.
Pagi bangun seperti biasa, melantunkan ayat suci al-Qur’an disaat mata mulai ingin memicik. Tertahan seperti pak tua mengangat seikat kayu bakar lemas letih tubuhnya. Rasa pulas tertidur tak berasa. Sampai esok pagi sekitar jam tujuh terbangun. Hal yang dilakukan santri modern saat terbangun bukanlah yang dilihat jam, melainkan jam yang tertempel di ponsel pintar. Godaan pun datang, tak sengaja menekan aplikasi yang cukup melupakan waktu yaitu mobile legend. Usai beberapa pertandingan ia pun melompat ke kamar mandi untuk mandi dengan mempersiapkan diri. Notifikasi banyak tak tertahankan, notif itu berteriak untuk memanggilnya segera ke aula yang disediakan. Saat membuka saat itu pula ia sudah beres bersih diri untuk mempersiapkan diri meneguk indahnya lantunan ayat suci al-Qur’an.
Waktu menghimpit, ia langsung berteriak berlatih di kamar kecilnya yang penuh dengan gambar ikon kota besar di dunia berwarna hitam dengan background biru laut. Sesekali ia gagal memanjangkan suaranya satu ayat penuh, sehingga ia mencoba-mencoba dan mencoba. Terlalu singkat ia tak banyak berfikir lagi. “Bismillah”, diuntaikan dalam hati bahwa ia pasti bisa. Diperjalanan ia bertemu dengan Pungky Rifa’i sebagai orang yang mengundang kedua setelah Ahmad Badrul Mubarok sebagai panitia. Khafidz menyenggol tipis kepada Pungky, “Apakah ada konsumsi khusus buat aku?.” “Bentar itu gampang, nanti saya tanyakan kepada panitia yang duduk disana.” Khafidz mengelak dengan rasa malu, karena yang duduk disamping tangga aula sebelah sungai ialah orang yang sering duduk sendiri sebelum madrasah dan sering bertemu sampingan saat berangkat, “eh jangan, kalau tidak dianggarkan nggak usah aja, biarin berjalan seadanya”. Akhirnya Pungky jadi bertanya dan memberi kabar, “Masalah itu sudah bisa diatur”. Dengan maksud bahwa makanan bisa diatur kalau tidak ada.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, acara mengaret satu jam yang cukup membuat ia kehabisan isi perut dipagi hari serta dahaga cukup menakuti. Pada saat itu beberapa santri putra dan banyak santri putri telah berkumpul di dalam Aula MA al-Ma’arif Tulungagung. Terlihat seorang bidadari yang diidamkan kawan ka Ahmad Badrul Mubarrok. Tak tahu namanya ia berparas chubby, putih, suka memandang lama dengan pandangan mata yang membuat gelisah Khafidz yang mengingatkan kepada pandangan jahil misterius si Gadies Malina Asy Syahbana. Pada saat itu ia berpakaian Biru Yayasan Pondok Pesantren Panggung Tulungagung dengan teman sebelahnya berbaju putih. Mereka berdua duduk bersama sebagai mistress of ceremony formal atau bisa dikatakan sebagai pra-acara berlangsung.
Sambil menunggu Khafidz keluar sebentar karena belum ada pemateri, mc utama dan pembanding duduk di singgasana yang disediakan. Ia mengambil sekotak dan segelas air minum sebagai tenaga sementara di pagi hari. Biar jantung tidak menunjukkan ekspresi mukanya. Melihat acara terlalu stagnan dan membosankan akhirnya Khafidz mengambil kebijakan untuk memutar musik jarak jauh dari ponselnya melalui media bluetooth. MQ, Sukarol Munsyid, Nabrotuzzain dan grub-grub favorit lainnya tidak tertinggal. Mereka yang sedang bosan mengisi otaknya dengan alunan. Tangan Khafidz bergerak sendiri seolah sebagai penabuh yang ada di Youtube offline yang ia putar.
Sesekali menoleh kebelakang melihat jumlah populasi laki-laki sangat minim dan sedikit satu banjar tidak lengkap. Melihat santri putra suka dengan piknik, ngopi, dan berlibur sehingga hobi, larangan tak sanggup membendung ambisi yang tak sewajarnya dirawat. Sedangkan santri putri dua banjar yang cukup banyak dua kali lipat dibanding dengan putra. Melihat lagi ke depan terlihat mungkin anak MA al-Ma’arif Tulungagung. Ada dua perempuan, yang satu sebagai birama nantinya saat penyayian lagu nasional dan kebangsaan bersama, sebelah lagi ada teman yang mendampinginya. Tidak tahu kenapa perempuan sebagai pendamping itu tersenyum sendiri tanpa sebab melesungkan pipi. Khafidz-pun sebagai santri yang sering mengelakkan hal lain kecuali hanya teman terusik. Ia kepikiran pipi manis teman sekolah MTsN-nya yang menuduh berselingkuh padahal tidak benar adanya. Semua akibat kesalahan mulut bergosip. Tapi Khafidz meredam diri agar tidak memikirkan apapun berbau asmara.
Cukup lama menunggu, pemateri-pun datang bersama dengan staff pendamping singgasana. Dari samping paling kiri ada Muhammad Mustofa Habib yang dikenal dengan pencetus mimbar santri, karena memang tidak ada santri yang memasukkan hal yang berbau perkuliaan atau sejenis seminar, bedah buku di pondok pesantren se-Tulungagung. Sebelahnya lagi ada tempat duduk kosong yang mana akan diduduki oleh calon Qori’ yang akan maju, disusul lagi pemateri utama Dr. Muntahibun Nafis, M. Ag sebagai pengarang buku Pesantren Pluralis serta menjabat sebagai direktur Pusat Studi Pesantren Tulungagung. Ada lagi sebelahnya Gus Fiq, salah satu gus Pondok Panggung, serta pembanding yang mana ia akan membandingkan, menambahkan apa yang seharusnya bahkan menggambarkan, kritik terhadap buku yang dikarang oleh Dr. Muntahibun atau pak Nafis.
“Acara yang kedua adalah pembacaan ayat suci al-Qur’an, kepada al-Ustadz Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz dipersilahkan”, MC pra-acara membacakan susunan acara. Khafidz-pun maju perlahan dengan merundukkan kepala. Salam diucapkan menoleh ke semua audiens sebagai rasa ia benar-benar berucap salam kepada khalayak bukan hanya formalitas semata. Ketika membuka al-Qur’an ia sedikit merasa terganggu karena masih banyak dahak di dada dan kadang di leher. Saat nada mulai mencapai puncak surah al-Mujadalah “ya, ayyuhalladzina amanu....”, riya’ dari dada mulai naik ke leher. Sehingga sebelumnya ia bernada bersih menjadi seperti rocker. Sambil melihat ke sekeliling mereka terfokus kepada Khafidz. Ia tak hiraukan apa yang mengganggunya, ia terus menikmatinya. Dalam hati kecilnya berkata, “Sudahlah, hayati saja, nikmati saja, jangan sampai karena rusaknya suaramu mengganggu jalannya konsentrasimu terhadap al-Qur’an.” Ia melanjutkan sampai akhir dengan menelan dahak demi meringankan suara. Meskipun sebenarnya sisi yang hati memberontak dan merasa malu bahwa kenapa ia muncul dalam keadaan cukup buruk, tapi ia mengiyakan dan sudah menjadi takdir yang terlewat.
Saat turun, Khafidz ia sangat bersyukur karena tidak ada komentar yang mengusik baik dari santri, panitia, masyayikh maupun kalangan lain yang datang. Memang diri sebenarnya Khafidz selalu meminta, jika ada acara apapun ia selalu ingin selingan waktu sekitar seminggu untuk memilih-memilah makanan, menjaga kesehatan dan latihan yang cukup sebagai pertunjukkan performa yang cukup baik dari segi batasnya ia tunjukkan. Saat kembali ke tempat duduknya ia menyiapkan catatan kecil dari dalam androidnya yang bernama notebooks yang selalu bawa dalam semua acara mauidzhoh, mengajar bahkan menulis rangkuman singkat tentang sesuatu yang disampaikan atau akan disampaikan.
Seusai acara mereka kembali ke asrama masing-masing, yang kampung kembali ke kampungnya, yang berumahtangga kembali ke rumahnya. Saat perut Khafidz memberontak ia memutuskan untuk mengajak teman yang mengundangnya tadi Pungky Rifa’i untuk mencari makan. “Mas, yuk cari makan!”, ajak Khafidz. “Tidak dulu dah, aku dah makan”, jawab Pungky. Dengan wajah murung yang tak tergambarkan dari chat whatsapp sambil menjawab singkat, “Oh, yasudah kalau gitu, tak cari makan sendiri.” Padahal tidak mau cari makan tapi menunggu ashobah sorenya. Tak disangka malah berkebalikan. Pungky dengan hati ikhlas dan merasa berterimakasih ia memberikan kotak nasi ayam geprek pedas. “Pcc (posisi sekarang di mana?)”, tanya Pungky. “Di kamar, ada apa?”, jawab Khafidz. “Oh oke, aku akan kesitu, jangan kemana-mana”, Pungky meyakinkan. Tak disangka ia membawa nasi kotak pemberian hadiah dari jeripayah panitia bekerja dalam rangka bedah buku ia persilahkan. Khafidz merasa senang dan sangat berterimakasih banyak kepadanya. Seakan itu merupakan rizki min ghairi la yahtashib, tak disangka muncul ketika sangat butuh. (19 Des 19)
Waktu menghimpit, ia langsung berteriak berlatih di kamar kecilnya yang penuh dengan gambar ikon kota besar di dunia berwarna hitam dengan background biru laut. Sesekali ia gagal memanjangkan suaranya satu ayat penuh, sehingga ia mencoba-mencoba dan mencoba. Terlalu singkat ia tak banyak berfikir lagi. “Bismillah”, diuntaikan dalam hati bahwa ia pasti bisa. Diperjalanan ia bertemu dengan Pungky Rifa’i sebagai orang yang mengundang kedua setelah Ahmad Badrul Mubarok sebagai panitia. Khafidz menyenggol tipis kepada Pungky, “Apakah ada konsumsi khusus buat aku?.” “Bentar itu gampang, nanti saya tanyakan kepada panitia yang duduk disana.” Khafidz mengelak dengan rasa malu, karena yang duduk disamping tangga aula sebelah sungai ialah orang yang sering duduk sendiri sebelum madrasah dan sering bertemu sampingan saat berangkat, “eh jangan, kalau tidak dianggarkan nggak usah aja, biarin berjalan seadanya”. Akhirnya Pungky jadi bertanya dan memberi kabar, “Masalah itu sudah bisa diatur”. Dengan maksud bahwa makanan bisa diatur kalau tidak ada.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, acara mengaret satu jam yang cukup membuat ia kehabisan isi perut dipagi hari serta dahaga cukup menakuti. Pada saat itu beberapa santri putra dan banyak santri putri telah berkumpul di dalam Aula MA al-Ma’arif Tulungagung. Terlihat seorang bidadari yang diidamkan kawan ka Ahmad Badrul Mubarrok. Tak tahu namanya ia berparas chubby, putih, suka memandang lama dengan pandangan mata yang membuat gelisah Khafidz yang mengingatkan kepada pandangan jahil misterius si Gadies Malina Asy Syahbana. Pada saat itu ia berpakaian Biru Yayasan Pondok Pesantren Panggung Tulungagung dengan teman sebelahnya berbaju putih. Mereka berdua duduk bersama sebagai mistress of ceremony formal atau bisa dikatakan sebagai pra-acara berlangsung.
Sambil menunggu Khafidz keluar sebentar karena belum ada pemateri, mc utama dan pembanding duduk di singgasana yang disediakan. Ia mengambil sekotak dan segelas air minum sebagai tenaga sementara di pagi hari. Biar jantung tidak menunjukkan ekspresi mukanya. Melihat acara terlalu stagnan dan membosankan akhirnya Khafidz mengambil kebijakan untuk memutar musik jarak jauh dari ponselnya melalui media bluetooth. MQ, Sukarol Munsyid, Nabrotuzzain dan grub-grub favorit lainnya tidak tertinggal. Mereka yang sedang bosan mengisi otaknya dengan alunan. Tangan Khafidz bergerak sendiri seolah sebagai penabuh yang ada di Youtube offline yang ia putar.
Sesekali menoleh kebelakang melihat jumlah populasi laki-laki sangat minim dan sedikit satu banjar tidak lengkap. Melihat santri putra suka dengan piknik, ngopi, dan berlibur sehingga hobi, larangan tak sanggup membendung ambisi yang tak sewajarnya dirawat. Sedangkan santri putri dua banjar yang cukup banyak dua kali lipat dibanding dengan putra. Melihat lagi ke depan terlihat mungkin anak MA al-Ma’arif Tulungagung. Ada dua perempuan, yang satu sebagai birama nantinya saat penyayian lagu nasional dan kebangsaan bersama, sebelah lagi ada teman yang mendampinginya. Tidak tahu kenapa perempuan sebagai pendamping itu tersenyum sendiri tanpa sebab melesungkan pipi. Khafidz-pun sebagai santri yang sering mengelakkan hal lain kecuali hanya teman terusik. Ia kepikiran pipi manis teman sekolah MTsN-nya yang menuduh berselingkuh padahal tidak benar adanya. Semua akibat kesalahan mulut bergosip. Tapi Khafidz meredam diri agar tidak memikirkan apapun berbau asmara.
Cukup lama menunggu, pemateri-pun datang bersama dengan staff pendamping singgasana. Dari samping paling kiri ada Muhammad Mustofa Habib yang dikenal dengan pencetus mimbar santri, karena memang tidak ada santri yang memasukkan hal yang berbau perkuliaan atau sejenis seminar, bedah buku di pondok pesantren se-Tulungagung. Sebelahnya lagi ada tempat duduk kosong yang mana akan diduduki oleh calon Qori’ yang akan maju, disusul lagi pemateri utama Dr. Muntahibun Nafis, M. Ag sebagai pengarang buku Pesantren Pluralis serta menjabat sebagai direktur Pusat Studi Pesantren Tulungagung. Ada lagi sebelahnya Gus Fiq, salah satu gus Pondok Panggung, serta pembanding yang mana ia akan membandingkan, menambahkan apa yang seharusnya bahkan menggambarkan, kritik terhadap buku yang dikarang oleh Dr. Muntahibun atau pak Nafis.
“Acara yang kedua adalah pembacaan ayat suci al-Qur’an, kepada al-Ustadz Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz dipersilahkan”, MC pra-acara membacakan susunan acara. Khafidz-pun maju perlahan dengan merundukkan kepala. Salam diucapkan menoleh ke semua audiens sebagai rasa ia benar-benar berucap salam kepada khalayak bukan hanya formalitas semata. Ketika membuka al-Qur’an ia sedikit merasa terganggu karena masih banyak dahak di dada dan kadang di leher. Saat nada mulai mencapai puncak surah al-Mujadalah “ya, ayyuhalladzina amanu....”, riya’ dari dada mulai naik ke leher. Sehingga sebelumnya ia bernada bersih menjadi seperti rocker. Sambil melihat ke sekeliling mereka terfokus kepada Khafidz. Ia tak hiraukan apa yang mengganggunya, ia terus menikmatinya. Dalam hati kecilnya berkata, “Sudahlah, hayati saja, nikmati saja, jangan sampai karena rusaknya suaramu mengganggu jalannya konsentrasimu terhadap al-Qur’an.” Ia melanjutkan sampai akhir dengan menelan dahak demi meringankan suara. Meskipun sebenarnya sisi yang hati memberontak dan merasa malu bahwa kenapa ia muncul dalam keadaan cukup buruk, tapi ia mengiyakan dan sudah menjadi takdir yang terlewat.
Saat turun, Khafidz ia sangat bersyukur karena tidak ada komentar yang mengusik baik dari santri, panitia, masyayikh maupun kalangan lain yang datang. Memang diri sebenarnya Khafidz selalu meminta, jika ada acara apapun ia selalu ingin selingan waktu sekitar seminggu untuk memilih-memilah makanan, menjaga kesehatan dan latihan yang cukup sebagai pertunjukkan performa yang cukup baik dari segi batasnya ia tunjukkan. Saat kembali ke tempat duduknya ia menyiapkan catatan kecil dari dalam androidnya yang bernama notebooks yang selalu bawa dalam semua acara mauidzhoh, mengajar bahkan menulis rangkuman singkat tentang sesuatu yang disampaikan atau akan disampaikan.
Seusai acara mereka kembali ke asrama masing-masing, yang kampung kembali ke kampungnya, yang berumahtangga kembali ke rumahnya. Saat perut Khafidz memberontak ia memutuskan untuk mengajak teman yang mengundangnya tadi Pungky Rifa’i untuk mencari makan. “Mas, yuk cari makan!”, ajak Khafidz. “Tidak dulu dah, aku dah makan”, jawab Pungky. Dengan wajah murung yang tak tergambarkan dari chat whatsapp sambil menjawab singkat, “Oh, yasudah kalau gitu, tak cari makan sendiri.” Padahal tidak mau cari makan tapi menunggu ashobah sorenya. Tak disangka malah berkebalikan. Pungky dengan hati ikhlas dan merasa berterimakasih ia memberikan kotak nasi ayam geprek pedas. “Pcc (posisi sekarang di mana?)”, tanya Pungky. “Di kamar, ada apa?”, jawab Khafidz. “Oh oke, aku akan kesitu, jangan kemana-mana”, Pungky meyakinkan. Tak disangka ia membawa nasi kotak pemberian hadiah dari jeripayah panitia bekerja dalam rangka bedah buku ia persilahkan. Khafidz merasa senang dan sangat berterimakasih banyak kepadanya. Seakan itu merupakan rizki min ghairi la yahtashib, tak disangka muncul ketika sangat butuh. (19 Des 19)
ConversionConversion EmoticonEmoticon