BEDAH BUKU: PESANTREN PLURALIS PP. PANGGUNG TULUNGAGUNG

Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
     Setelah saya menulis tulisan Qori’ Rocker, saya ingin memasukkan tulisan pesantren pluralis pada tulisan kisah Qori’ Rocker rasanya sungguh ganjil. Sebelumnya lebih cenderung news features yang menggambarkan keadaan sehingga pembaca lebih santai dan bisa terbayang. Apa itu qori’ rocker?, apakah itu rocker sungguhan atau bagaimana?. Cukup aneh dicerna secara harfiah. Lebih tepatnya segala tulisan yang ada di blogger ini (www.kangkhafidz.blogspot.com) lebih cenderung kepada pengalaman pribadi, rasa, hal yang luar biasa dan krentek yang ingin diutarakan dalam bentuk tulisan. Mengingat adalah suatu hal yang menyusahkan, seiring tertiriskan detik waktu, semakin berkurang apa yang diingat, baik satu kata, satu kalimat, kadang berubah secara alami, bahkan yang lebih parahnya lupa ingatan. Tulisan singkat yang akan saya tulis ini bukan merupakan karya ilmiah. Tetapi lebih tepatnya tulisan bebas tetapi tergambarkan dengan isi acara bedah buku: Pesantren Pluralis yang diadakan di Pondok Pesantren Panggung Tulungagung. Hal ini ditulis karena desakan yang meyakinkan penuh harap dari teman akrabnya dari Pungky Rifa’i. Karena ia sering mendengar Khafidz suka menulis ia ingin menuliskannya dan re-share again kepada publik biar manfaatnya tidak hanya berguna dalam hari pembedahan buku itu saja.
     Jika ditanya apa itu pesantren? Apa yang kalian fikirkan?. Pasti yang terbersit ialah dari tiga point; ada santri, kyai, dan kitab. Mereka seperti rantai makanan yang saling topang-menopang saling menggantung tidak terpisahkan. Intinya santri menurut kalian adalah orang yang menuntut ilmu di pesantren, atau mungkin memunculkan makna tempat tidur para santri dalam tanda kutip beragama islam. Bukankah begitu? Jika pembaca membaca tulisan buku Pesantren Pluralis atau mengikuti event bedah bukunya maka mungkin anda akan mendapatkan perspektif yang berbeda. Bahkan mungkin cara pandang anda akan berubah atau mungkin hanya sekadar wawasan belaka.
     Pesantren dalam penelusuran Pak Nafis paling tidak memiliki 5 elemen berikut. Kyai, santri, masjid, kitab kuning dan asrama. Hal ini tidak terelakkan. Dari kyai pasti ada, kecuali yang ditinggal wafat oleh kyainya tetap dianggap pondok. Biasanya kyai disini disebut sebagai pengasuh pondok. Jadi dalam komposisi pesantren ia berada diposisi paling puncak. Sebagai panutan, penentu, sangat dihormati. Ia sebagai ayah dari para santrinya. Kategori masjid pasti ada di pondok pesantren. Jika kurang dari hal-hal yang ditentukan itu bukanlah pesantren. Bisa jadi disebut dengan asrama yang alih fungsinya hanyalah tempat tinggal atau ngaji biasa.
     Sedangkan apa itu pluralis?. Dalam mata pelajaran bahasa inggris pasti pernah mendengar pembagian kata. Singular (satuan atau satu) dan plural (banyak). Plural disini bukan plural dari segi bermacam-macam tempat asal satri, bentuk santri, karakteristik santri, sifat santri dan lain-lain. Jadi santri disini bukan santri dari segi umumnya, bahkan lebih umum dari pada pengertian santri yang telah diketahui khalayak. Santri sebenarnya serapan dari kata sastri kemudian diganti atau beriringan perjalanan waktu menjadi santri. Sastri merupakan sebutan bagi orang yang mempelajari kitab suci Hindu-Budha, Siwa dan agama Wisnu. Hal itu seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag dan Dr. Akhol Firdaus.
Terkait dengan penggambaran pluralis, Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag memberikan beberapan guyonan. Enak jadi santri. Santri itu bermacam-macam berbeda karakter, jenis dan lain-lain. Disini yang ikut dalam bedah buku ada yang berkerudung putih hitam, yang cowok ada yang berkopyah putih ada yang miring seperti ini. Itu merupakan plural, perbedaan. Dengan perbedaan segalanya akan jadi indah dan nikmat. Berbanggalah kalian sebagai santri yang jomblo. Apa sih manfaatnya?, santri itu free-hatin (bebas berteman satu sama lain tanpa adanya tekanan yang mengekang), kedua banyak teman. Di dalam pesantren santri mesti ada hafalan. Apa yang dihafal mungkin akan cepat menghilang. Oleh sebab itu santri harus paling tidak memiliki tiga buku. Buku tabungan, nikah dan buku karya. Dengan karya kalian pasti hidup. Keberadaanmu bisa dianggap hidup melalui karya. Banyak ulama’ terdahulu dianggap hidup dari sekarang karena karyanya. Sebagai contoh syekh Imam Ghozali dan masih banyak.
     Sebagai gambaran dari pengertian pesantren pluralis yang penulis maksud, penulis akan memberikan kisah fakta tentang hal tersebut. Ada sebuah pesantren yang sekarang diasuh oleh Kyai Sholeh yang bernama Pondok Pesantren Ngalah. Pondok pesantren geografis berletak interaksi dengan mayoritas Kristen. Sehingga pendirian pondok pesantren warisan ayahnya tidak mungkin menerapkan pendidikan agama islam secara lurus dengan pesantren pada umumnya atau secara konstan seperti pondok pada umumnya. Kemudian akan berakibat persetruan, tidak saling menghargai dan mengotak-ngotak tidak saling sapa dan mengenal. Tidaklah nyaman kalau didirikan di mayoritas kristen. Mungkin juga santri dari luar hanyalah angan saja.
Melihat kejadian seperti itu membuat kebijakan tersendiri dari istilah thariqah “Urip iku kudu tansah migunani marang liyan”, maksudnya ialah segala hal yang kontradiktif, atau apapun yang penting prinsip saling berguna satu sama lain lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi. Dahulu ayah dan kyai Sholeh menerapkan hal yang cukup aneh, yakni ceramah di gereja. Setiap 25 Desember beliau mengisi ceramah natal juga. Memang sedikit aneh, tapi uniknya beliau tidak mengemukakan hal yang kontroversi yang menyinggung perbedaan agama dan merasa yang paling benar. Tetapi beliau ceramah bernuansa islam dengan dalil terserip tanpa ada kompromi sebagai ajakan untuk mengislamkan orang kristen secara serentak seperti para penda’i sebelumnya.
     Anehnya, kyai Sholeh jika diundang dalam suatu majelis. Sedangkan dalam majelis itu dikumpulkan dengan kyai lain pada umumnya. Beliau tidak akan atau mungkin tidak hadir. Karena perbedaan jalan beliau dengan kyai pada umumnya. Akan tetapi jika diundang oleh romo kyai atau pastour pasti hadir dalam majelis tersebut. Karena mereka lebih terbuka dan tahu posisi bahwa keberadaanya tidak akan menunjukkan perpecahan dan perselisihan melainkan menunjukkan warna kebersamaan.
     Lebih aneh lagi di pondok pesantren kyai Sholeh. Kyai sholeh mengizinkan, memberikan wewenang untuk sebaliknya. Para pastour diizinkan khutbah pada event-event tertentu seperti ceramah maulid nabi dan lain sebagainya. Meskipun demikian penulis tulisan bebas ini masih merasa bertanya besar, apakah ceramah dalam maulid pastour berdalil? Karena maulid atau event-event keislaman kurang nyaman tanpa dalil. Disimpan saja semoga ketemu saat berselancar atau berbincang dengan yang lain menutup pertanyaan besar yang baru muncul. Kyai Sholeh sebelumnya tidak memberi tahu santrinya tentang kebiasaan aneh beliau, karena kalau santri melihat pasti diikuti, kalau mengikuti tanpa akidah kuat ditakutkan salah kaprah bagai anak labil yang selalu mengikuti orang tua dan disekitarnya tidak tahu baik atau buruk tanpa ada saringan yang logis dan masuk akal.
     Pak fahru menambahkan sebagai pembanding bahwasannya konon katanya beliau kyai Sholeh memiliki karamah berupa mudah berinteraksi dengan semua kalangan. Selain itu beliau selalu memberikan air kepada siapapun yang datang untuk berkunjung di pondok pesantren yang beliau asuh. Beliau selalu memberikan doa disetiap air yang beliau kasihkan. Saat ini santri beliau sudah mencapai dua ribuan lebih. Hal ini membuat non muslim terheran, mengapa demikian?. Ketika kyai Sholeh keluar atau datang dalam majelis, para santri senantiasa baris memanjang untuk sungkem (bersalaman kedua tangan dengan mencium tangan sambil memejamkan mata serta merunduk sebagai tanda ketawadhu’an kepada yang disalami) kepada beliau dengan barisan yang rapi dan merata. Mereka mayoritas Kristen merasa iri. Di sekolah-sekolah kristen sekitarnya membuat tercengang melihat kebiasaan sehari-hari tersebut.
     Disamping itu dalam pondok pesantren ini juga membolehkan anak SMA Kristen untuk belajar bersama di masjid. Padahal umumnya agama lain tidak boleh menginjakkan kaki di masjid karena berlainan akidah. Yang boleh ialah orang yang akan masuk islam dan sudah islam. Tetapi dalam pondok ini malah berkebalikan, ia mengizinkan hanya untuk thalabul ilmi. Pernah Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag ikut pada seminar nasional. Beliau mengemukakan pertanyaan yang aneh bahwasannya bagaimana jika ada para pendeta atau pendeta mengkaji atau hanya sekadar mengaji tafsir jalalain di Mbah Kyai Sholeh? Apakah masih layak mereka disebut sebagai santri?, secara spontan pemateri seminar nasional bahwa ia merupakan kyai bodoh, goblok. Pendapat demikian tidak disukai pak Nafis. Terlalu menjustifikasi benar dan salah tanpa ada saringan, pemahaman dan bacaan yang luas. Yang lebih unik lagi, ketua jurusan atau disingkat kajur di universitas yang dibangun di sana adalah non-Muslim. Hal itu sudah wajar, karena yang lebih dipentingkan adalah kerjasama dan kepercayaan tanpa membuang relasi antar agama samawi. Agama yang sejalur satu Tuhan yaitu Allah SWT.
     Sebenarnya, islam itu meskipun mengklaim sebagai agama paling benar, paling akhir, agama khatamul anbiya’ juga masih menghargai agama samawi yang lain. Setiap hari orang-orang islam mendoakan orang Yahudi dan Nasrani. Bisa diambil contoh dalam shalat ketika kita semua orang islam membacakan tahiyat akhir, “Kamaashollaita ‘ala sayyidina ibrahim wa ‘ala ali sayyidina ibrahim.” Mendoakan keselamatan nabi ibrahim dan keluarganya, keturunannya. Yang mana kelak akan melahirkan tiga agama besar yang saling susul menyusul, saling menyempurnakan satu sama lain akibat bergesernya penyalahgunaan dari umat yang menganut. Meskipun demikian mereka tetaplah bersaudara, sama-sama satu sumber, satu jalur millah ibrahim.
     Beberapa prinsip yang dikemukakan Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag terkait dengan prinsip yang dipegang kuat untuk berinteraksi dengan agama saudara oleh kyai Sholeh Mu’amalatul khairat ila jami’il makhluqat (berbuat baik kepada semua makhluq), Urip iki kudu iso koyok bumi kudu terimo opo ae, urip iki kudu iso koyok langit, sopo ae dinaungi (hidup itu harus bisa seperti bumi yang menerima apa adanya, hidup itu juga harus bisa seperti langit yang senantiasa dapat menaungi siapapun dinaungi tanpa pandang bulu).
     Diakhir penghujung acara ada seorang santri bertanya, “Bagaimana cara menyikapi perbedaan agama? Sekilas bersebrangan dengan agama islam, sedangkan dalam posisi itu kita adalah santri tulen. Al-hasil apa jawaban dari Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag?. kita tidak boleh terbutakan dengan tekstualis. Kita bisa menyalahkan karena yang dibaca cuman satu literasi, satu tafsir, satu pandangan. Tidak melihat teks-teks yang lain yang lebih luas seperti Muhammad Abduh dan lain-lain. Kedua kurang piknik, maksudnya ialah kita hanya terfokus satu tempat, cobalah jalan-jalan melihat perbedaan, merasakan sumber ajaran mereka, apa yang mereka gandrungi dan lain-lain sehingga mereka bisa sedikit berbeda dengan kita. Jika sudah demikian kita tidak mungkin bisa menyalahkan satu sama lain dengan mudah, namun dengan saringan yang kuat.
     Tips terakhir biar aman dari kesalahpahaman atau sesat jalan tentang islam atau lebih aman beragama islam dengan tenang. Pertama ikuti thariqah, itu prinsip atau cara paling ekstrem untuk berislam. Kita dibaiat kepada mursyid sebagai konsekwensi ikut terhadap thariqah tersebut. Kedua, kalau tidak bisa ikut thariqah perbanyaklah membaca, dengan membaca kita bisa berwawasan lebih luas. Tahu mana perbedaan, mana kesamaan, mana yang dimaksud dengan arti demikian, haruskah pemahaman secara dhahiriyah saja atau ditakwil dan sebagainya. Terakhir ialah ikutlah dengan kyai, ikuti segala hal yang diperintahkan kyai, dilakukan kyai, diajarkan kyai sehingga kenyamanan beragama tetap pada jalur yang ditentukan sesua pemahaman dan tingkah laku kyai. (20 Des 19)

Previous
Next Post »
Thanks for your comment