Dipaksa, Terpaksa, Terbiasa, dan Luar Biasa

Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz

     Kata-kata ini sering saya dengar dari sekolah dahulu dari ibu dan Ayah angkat saya (KH. Wazier Alie, Lc). Seakan-akan kalau didengar memiliki makna yang cukup indah bagi pribadi seseorang. Dalam website kompasiana dan website yang lain ternyata sudah banyak yang menulis tentang artikel ini. Kebanyakan ditulis dengan bahasa cerita pribadi. Kata-kata ini juga pernah muncul dari seorang penulis bernama Dr. Ngainun Na’im dan Dr. Salamah Noorhidayati, M.Ag.
     Makna dipaksa artinya setiap person seseorang dipaksa dengan kebiasaan yang baik. Seperti saya dipaksa untuk melantukan ayat-ayat al-Qur’an dengan nada-nada tertentu di TPQ Ketanon tepatnya pada malam minggu tanggal 8 Desember 2018. Mas ghazali memberitahuku secara mendadak pada sore hari untuk mengisi diacara pengajian di Mesjid TPQ Ketanon. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati maulid nabi. Saat itu aku terkaget, kenapa mendadak pada sore hari. Biasanya kalau ada request aku selalu berkata kepada yang memesan. Kalau ingin menyuruhku Qiraah pada suatu acara harus memberitahuku paling cepat seminggu sebelum acara. Karena ingin memantapkan maqra yang akan dibaca atau membuat maqra’ baru yang berhubungan dengan acara tersebut.
Waktu menjelang sore, aku menyempatkan diri untuk menyepi di kelas MA al-Ma’arif paling atas. Aku teriak sekeras-kerasnya di ruangan hampa. Suaraku terdengar memantul sedikit karena kelas hanya berisi beberapa kursi dan satu meja. Ketika aku membaca lafadz yang sama berbeda lagu, membuatku gundah gelisah. Satu lagu bayyati jawab satunya lagi jawabul jawab.
     Tidak terasa ruangan semakin mengkaburkan mataku. Aku turun ke bawah untuk mandi sore. Kemudian ishoke (istirahat, shalat, kegiatan). Setelah pembacaan asmaul husna, mas ghozali mengusik ketenanganku dengan berkata “ayo mas persiapan berangkat sekarang”. Aku mengambil baju takwa kemudian memakaikannya dari kanan ke kiri dengan membawa tas coklat kecil di samping kiri.
     Kami berangkat dengan mengendarai sepeda motor Supra X 125D dengan perlahan. Aku sebagai pengemudi utama duduk dibagian depan. Ketika melintasi jalan lurus tengah kota di malam hari cukup ramai. Aku berteriak sambil mengingat lagu qiraah yang telah saya persiapkan ternyata masih belum ketemu. Disaat itu pula aku nerveous seperti tidak mau melangkahkan kaki ke depan.
Saat tiba di dekat masjid terlihat cukup ramai, mungkin yang hadir sekitar 70 an orang. Terlihat disebelah ada penerima tamu, kami tetap lurus menuju tempat parkir. Ditempat langsung disambut dengan hangat. Tempat tamu VIP yang banyak jajanan jelly kecil dan masih banyak lagi disuguhkan. Kami duduk diatas karpet merah motif hitam sambil menikmati performa puisi anak tentang nabi, shalawat para pemuda, dan shalawat para ibu-ibu sekitar yang tak kalah semangatnya. Mereka menabuh hadrah dengan pukulan yang keras tak beremosi. Mengalir dengan lagu shalawat yang di dendangkan.
     Tak lama kemudian acara dibuka dengan dua MC dengan dua bahasa, yakni bahasa arab dan terjemahnya. Biasanya seremonial di perdesaan atau lingkungan masyarakat disajikan dengan satu bahasa. Seperti bahasa jawa saja atau bahasa indonesia. Berbeda dengan dengan daerah ketanon ini. Cukup dibilang dengan daerah berkembang.
Ketika dibuka dipanggilah namaku dengan sebutan “...kepada akhinal kiram, Dinul Qoyyim dipersilahkan!”. Gemetar hati dengan gugub berjalan perlahan dengan membawa al-Qur’an kecil yang didalamnya terdapat secarik kertas contekan nada yang sekiranya rawan dari kesalahan.
     Saat maju aku kebingungan, diatas panggung ada mic, sedangkan aku dikasih mic oleh MC. Langsung saja aku berjalan naik dengan membawa mic. Masih tetap gemetar dengan melihat penonton serta berucap salam nada pelan. Sekelebat aku salah dalam membaca basmalah, yakni ketukar dengan nada basmalah kedua. Akhirnya aku bingung. Aku berhenti sejenak melanjutkan maqra dengan penuh hikmat. Alhamdulillah dapat lancar sampai akhir. Dari tragedi demikian aku mengambil hikmah, yakni yakinlah pada apa yang kau pelajari, nikmati dan biasakan, kelah ia akan datang kepadamu dengan penuh nikmat pula.
     Aku turun dengan rasa dingin dan lega. Tak berani memandang mata penonton, mungkin karena kebiasaanku pemalu. Aku kembali, ternyata aku duduk se majelis dengan mauidhoh hasanah di makani akl. Kami bincang bersama. Setelah rangkain acara demi acara. Mauidoh hasanah dipanggil kedepan panggung. Ia membawakan dengan penuh hikmat mulai dari menerangkan asal-usul maulid nabi sampai kebaikan yang harus dibawa ke dalamnya. Ia tidak membawa isu panas, namun lebih meyakinkan bahwa maulid nabi perlu diadakan.
     Penegak acara adalah Bu Nikmah sekeluarga. Ia bersi kukuh untuk istiqamah mengadakan acara seperti ini setiap tahun dan rutinan bulanan istiqamah. Meski ia berbicara dengan berat hati sambil mata merah berair namun semangat akhirat masih membara di hatinya. Ia memiliki anak angkat sebanyak 15 anak yang udah gede tentunya. Ia membiayai kuliah sampai selesai. Setelah itu terserah mau kemana. Akhirnya Sesi terakhir adalah BERFOTO BERSAMA seperti postingan dibawah. (samawa (kh/Mal-Ming, 11-12-18)

Previous
Next Post »
Thanks for your comment