Ikutlah dengan Kyai

Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
            Pada suatu hari tepatnya saat matahari akan mengilangkan singgasananya. Ada seorang pemuda bernama khafidz. Ia sedang bermain handphone atau smartphone dengan menjalankan youtube mencari konten banjari, noobqueen, fox, dan gadgetin terbaru yang ia sucbribe. Ia bersantai mencari wifi gratis dikala itu seusai mengajar di TPQ Miftahul Ulum, Waung, Tulungagung. Tiba-tiba ada getaran aneh yang muncul dari handphonenya. Setelah dilihat notifikasi yang menganggu ternyata itu adalah telpon dari mas Ghozali teman kuliah, serta teman se-Majelis Rasulullah Tulungagung, sekaligus ketua MR Tulungagung. Ketika ditanya “...wa’alaikum salam, ada apa kok menelpon?”, tanya Khafidz. “niku mas wonten aqiqahan, kulo diutus gus Rofiq untuk qiraah di aqiqahan”.
            Sejenak setelah mendengar kabar mendadak itu Khafidz terkejut. Langsung hati kecilnya berkata, “Mati aku, aku belum membuat maqra’ tersebut sama sekali.” Setelah itu khafidz bertanya kembali ke mas Ghozali, “Bagaimana ini, aku belum membuatnya, apa yang harus saya suguhkan, sedangkan kamu mengatakan itu kepadaku secara mendadak, tidak hari-hari sebelumnya sehingga aku bisa membuat maqra’ yang pantas, apakah qiraah majelis bisa digunakan?”. Mas Ghozali menjawab, “Terserah mas.. maulid nabi juga bisa, majelis juga bisa, sebisanya mas, aku juga dikabarin mendadak seusai aku mengajar di TPQ, pokoknya nanti setelah magrib berangkatlah ke ndalem gus Fiq.” Mas Ghozali berusaha meyakinkan Khafidz agar mau mengikuti perintahnya dengan penuh harap. Akhirnya ia mau untuk mengikuti kehendak mas Ghozali.
            Seusai Khafidz sholat berjamaah di surau Pondok Pesantren Panggung, Tulungagung. Ia langsung bergegas dengan pakaian tak sewajarnya yang tak berwarna putih, melainkan abu-abu hitam berkerah merah dengan sarung hijau tua berkopyah hitam sambil memakai tas coklat berisikan smartphone sebagai pengganti al-Qur’an. Perasaan deg-degan dalam dada terus berdegub karena ia akan menghadap sowan ke ndalem. “dok, dok, dok”, suara pintu terketuk salam-pun terucap, “Assalamu’alaikum.” Dengan mengulang ketiga kali tetap tak ada jawaban. Ia berdiri lama. Perasaan bingung berjalan mondar-mandir, masuk separoh badan keluar lagi seperti kucing mau mengejar tikus dengan penuh kehati-hatian. Sunnah rasulpun terbuang dengan mengulang salam ke empat kalinya tanpa meninggalkan kediaman.
            Akhirnya gus Fiq datang dengan menjawab salam, “Walaikum salam.” Ia berjalan melewati pintu dengan perlahan dan santun. Pada saat itu pakaian yang menyelimutinya berwarna putih, bersarung dan berkopyah keras berwarna putih. Seketika itu beliau langsung mempersilahkan santrinya yang cukup nakal dalam tanda kutip tidak ketahuan untuk duduk bersama di ndalem ruang tamunya. Khafidz disambut sangat hangat dan sopan. Ketika duduk mereka berdua berbincang kecil-kecil sebelum berangkat. Beliau mengawali pembicaraan, “saya mendengar, kata istri saya, selain pak habib yang bisa qiraah adalah guru TK yang mengajar musik hadrah dan qiraah, sedangkan istriku ku tanya siapa, ia tak tahu, eh ternyata kamu yang mengajarinya di TK.” Khafidz menyahut, “Iya, gus, saya yang mengajar, tapi saya tidaklah guru yang ber SK dan menetap seperti guru yang lain. Saya dimintai untuk membantu jalannya persiapan wisuda TK al-Munawwar, Tulungagung.”
Kemudian setelah waktu berjalan lima menit, beliau berdiri untuk mengambil makanan. Beliau membawa 2 piring berisikan ikan dan tahu berlumpuran lodeh kental berwarna kuning yang penuh dengan santan kiranya. Khafidz mengatakan, “Maaf sebenarnya aku sudah makan tadi di ndalem bu nyai Asrori.” Beliau menyahut, “Udah nggak papa makan saja.” Karena ridhanya terletak pada makanan yang disuguhkan akhirnya khafidz memakannya dengan memaksa lidah dan perut untuk menghabisinya. Lama mengunyah, lambung serasa mau mengajak berperang, hatipun melerainya, seakan mengatakan “udahlah makan saja wahai mulut indah.”
            Tak lama kemudian ada suara tilulit terdengar dari ponsel gus Fiq. “Walaikum salam, iya ini sudah dapat qori’nya. Habis ini berangkat ke situ, ..iya,.. iya, tempatnya ada smp 5 belok ke kanan?, iya, iya, ya sudah ini mau berangkat, Assalamualaikum.” Sambil mendengar Khafidz makan dengan penuh memaksa perut dan mulut. Kerupuk dimakan semua demi menahan kentalnya santan dan rasa lodeh yang menyekat di mulut. Sebelum berangkat ia menyisakan lauk yang dirasa terlalu banyak dari jumlah nasi yang dimakan, karena ia dari kecil tak biasa memakan lauk lebih banyak dari nasi. Meskipun kebarakahan sebuah nasi dari akhir dari hasil yang dimakan, seperti dawuh KH. Haramain Asy’ari, Lc pengasuh Asrama Sunan Ampel Putra, Denanyar, Jombang, “Jika nasi itu tersisa dan dibuang, maka sebenarnya jika kalian tahu, nasi itu meneteskan air mata, ia sedih, dan hal itu juga dapat menjadikan keberkahan dari apa yang kau makan sia-sia.” Maksudnya ialah mungkin makan yang dimakan dari santri itu tidak membuat ia kenyang atau ia makan kenyang tapi tak berlangsung lama atau hal yang lainnya yang berhubungan dengan keberkahan. Tetapi berbeda dengan tokoh Khafidz ini, biasanya ia dijuluki sebagai anak yang suka makan, berhubung ia sore sekitar jam setengah enam, maghrib ia sudah makan selang satu jam ia pun disuguhin makan lagi yang cukup banyak yang mana membuat si lidah meronta-ronta menolak si lauk daging.
            “Krieg”, suara gerbang terbuka. Gus Fiq membuka bagasi mobil dengan perlahan. Bagasi berpintukan lipat selebar setengah meter tinggi 2 tongkat pramuka. Khafidz pun membantu melebarkan pintu. Sejenak Khafidz berfikir ia akan memakai sepeda motor yang disediakan, alhasil ekspektasi tak sesuai realita. Beliau malah yang menggonceng Khafidz dengan mobil Kijang Inova biru gelap. Dengan mata kepala merunduk ke tempat sujud Khafidz berjalan masuk mobil. Ia memiliki kebiasaan merundukkan pandangan terhadap kyai yang ada di dekatnya atau ustadz sepuh yang memiliki hawa kewibawaan yang terpancar dari sikap dan perilakunya. Mobilpun berjalan memutar mengelilingi kota Tulungagung.
            Perjalan melewati jalan hitam lebar ramai nan sedikit tersendak dileher. Ketika akan berjalan lurus melewati jalan kecil PINKA (sungai Pinggir Kali) ada tulisan membegal perjalanan mereka berdua. “...Maaf perbaikan sungai sedang diperbaiki.” Beliau kebingungan, seakan isyarat mengatakan sekiranya cuman jalan ini yang membimbing ke sana. Pintu mobil dibuka, beliau bertanya kepada orang yang menjaga warung kecil, “Apa ada jalan yang bisa menunjukkan ke smp 5?.” Jawab dari pedagang itu seakan dari raut muka dan sikapnya seakan mengenal gus Fiq sebagai orang asing sambil berkata tak berkrama, “Iya, nanti melewati ini, nanti belok ke kiri, ikuti orang-orang yang lewat, diperjalanan sana akan ramai orang.”
            Mereka mengikuti alur sesuai dengan apa yang ditunjukkan darinya. Jalan kecil berbatu. Satu mobil mendesak arah yang lain. Dua mobil saling bertemu, peluang bergesekan mungkin terjadi, saat bersalipan selalu ada yang mengalah ke bawah ruas jalan. Lebih parah lagi apalagi bersebrangan dengan truck. Tapi karena kuasa Allah yang Khafidz mengira saat ada truck yang kecil-kecil pasti mengalah, ternyata truck tersebut menyisihkan badannya ke sebelah jalan. Perjalanan hampir memakan setengah jam dari kota telah sampai tujuan di desa. Para pengendara pun bersabar melewati antrian lama satu jalan kecil. Meskipun sedikit aneh jalur yang diperkenankan. Pengendara melewati jalan yang patut dilewati tracktor sawah yang cukup bergelombang, gulita serta sepi melewati lingkungan berpohon lebat jarang berpenghuni rumah.
            Saat mobil sudah sampai di lokasi perumahan. Mereka berdua pun turun. Saat mata memandang khalayak di rumah yang ramai. Mereka disambut hangat oleh keluarga sekaligus pemilik rumah. Khafidz berjalan perlahan tetap tak menghadap sejajar ke muka. Jari jemari saling bersetuhan sebagai tegur sapa ahlan wasahlan di rumah kami. Rumah kecil berwarna kuning dengan teras gavalum kecil. Rumah kecil berpenghuni baru yang tak bisa diupgrade layaknya tanah sendiri. Saat itu mungkin sekitar empat puluh tamu undangan datang dengan beberapa mobil dan sedikit motor parkir di tempatnya.
            Gus Fiq dan Khafidz pun masuk diluar ruangan. Karena tempat khusus untuk MC dan Maudihoh serta srokal ada di luar ruangan. Ketika bersalaman Khafidz dihadang oleh orang tak dikenal berbaju koko putih sambil berkata, “Kamu santri (abdi ndalem) gus Fiq?.” “Iya”, jawab perlahan dari Khafidz. “Nanti kamu pegang hadrah menggantikan temen saya yang berhalangan perut sakit hari ini”, orang tersebut meminta. “Iya, kok anda tahu bahwa saya bisa hadrah? Padahal aku tidak menunjukinya”, terheran Khafidz sambil mengkerutkan alis tak sengaja. “Aku bisa melihat dari auramu, sebagai santri, karena aku juga pernah nyantri, pada saat itu aku berbeda dengan santri yang lain, santri lain secara langsung minta amalan, minta ilmu, sedangkan aku adalah abdi ndalem yang tidak meminta apapun kecuali nderek kyai (ikut patuh dan takdim pada kyai), aku setiap hari hanya memijat-memijit kyai, sekali merasa nyaman aku selalu dipanggil saat ada banyaknya yang sowan untuk meminta apapun dari beliau, saat para santri ngaji aku hanya mendapat kegiatan memijit, kadang pula mengaji selayaknya santri. Namun apa hikmah yang didapat?, aku tidak meminta tetapi mendapatkan ilmu yang tiba-tiba muncul pada benak, tiba-tiba bisa bicara, itu kalau di akal tidak bisa tergambarkan, salah satu yang kudapatkan tanpa meminta ialah ilmu membaca aura, jadi kamu tidak mengatakan apapun, tidak melakukan apapun aku bisa membaca aura yang terpancar.”
            Seusai MC membacakan susunan acara, kini saatnya giliran Khafidz untuk menjalankan tugasnya. “Acara yang kedua yakni pembacaan ayat suci al-Qur’an kepada yang terhormat al-Ustadz Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz dipersilahkan”. Rasa gugup bercampur malu karena ia tak membacakan ayat maulid nabi ataupun surah khusus anak dalam acara aqiqahan. Khafidz pun membawakan lagu dengan surah majelis ilmi atau rapat surah al-Mujadalah ayat 11. Ia membawakan dengan posisi tubuh tegak menekan udara ke dalam perut. Meskipun dalam keadaan kurang fit akibat dimintai secara mendadak sehingga ia belum mengatur pola makan, minum dan latihan pernafasan serta maqra’ yang akan ia bawa untuk mengisi acara.
            Menginjak acara selanjutnya yakni pembacaan srokal. Awalnya Khafidz disuruh untuk memukul genderang terbang, tetapi semenjak tahu kalau ia membawakan lagu qiraah, akhirnya disuruhlah pula untuk menyayikan asyroqol. Khafidz bingung dengan adat dan lagu asroqol, ia meminta sambil berbisik kepada sang MC untuk membimbingnya dengan keras. Setelah turun dari asyroqol, orang asing tadi bertanya, “surah apakah yang kau bawa?.” “Surah al-Mujadalah, sebenarnya nggak pantas sih, soalnya ini tentang aqiqah, karena mendadak aku memilih jalan tengah surah yang bebas untuk segala majelis”, ujar Khafidz dengan penuh pendam rasa malu.
            Sejenak acara berjalan menuju ke mauidzoh hasanah yang akan disampaikan oleh gus Fiq. Beliau membawakan pembukaan mauidzoh hasanah dengan banyak dalil tentang aqiqah, cara membina keluarga, memberi nama bayi, menjaga keluarga dan lain sebagainya secara lengkap yang nantinya akan dibawa ke dalam isi mauidzoh hasanah. Beliau membawakan mauidzoh hasanah yang cukup berbobot karena semua yang disampaikan berdasarkan banyak dalil yang dikompresikan ke contoh dan sikap berkeluarga. Salah satu yang digaris bawahi, beliau menyinggung secara sirri, bahwa yang aqiqah ini bukan anak kecil lagi yang tentunya sudah punya nama. Beliau mengatakan “... kalau anaknya sudah gede segini mana mungkin dia berani untuk dipotong rambutnya bersama orang-orang. Pasti malu karena keterlambatan aqiqah.” Khafidz pun mencatat pembicaraan secara lengkap dan rinci secara garis besar dan dalil. Setiap perkataan ditulis, setiap dalil panjang dicari disetiap detik dengan google search. Ia tak menuliskan arti pada catatannya tetapi berdasarkan garis dan kumpulan dalil.
            Mauidzoh hasanah berjalan, Khafidz pun berbiacara dengan dirinya sendiri dalam benak. “Begini ya rasanya berselimut dengan masyarakat, tiba-tiba saja Qiraah, mereka orang kaya saling berkumpul undangan khusus, sedangkan aku siapa?, kadang aku juga berfikir saat Gus Fiq dawuh tentang keluarga sakinah, aku kadang membayangkan jika aku kembali ke kyai ku dulu maka aku akan bersenggolan dengan Gadis yang tak sengaja aku menyukainya, kadang pula aku berubah fikiran jika aku ketemu masa lalu ku, matilah aku dengan Rini, aku terlalu banyak memendam benci kepadanya, karena benciku sebenarnya itu rasa sukaku, kalau aku disini maka aku kenal dengan Intan Nur Hidayah, cewek cantik gemuk kecil berkacamata yang aku kagumi sejak aku pernah latihan bersama dan se-grub aku pun yang sering melatihnya dan ngomel juga tentunya, jika aku pulang maka juga pilihan terakhirku adalah luthfia yang dari sorotannya seperti dia menyukaiku apa adanya, meskipun dia gendut, dari beberapa orang yang pernah gendut pernah suka padaku aku elakkan, tapi seakan di cukup cocok denganku lantaran ia tulus sepertinya. Tapi aku siapa?, aku tak memiliki apapun.”
Lagi berkhayal banyak tiba-tiba orang asing sebelah khafidz menyenggol dengan sindiran dan berkata, “Masalah jodoh gak usah dipikirkan, umur kamu masih muda, teruskan menuntut ilmu, kamu sudah enak menjadi abdi ndalem (padahal belum), seperti cerita saya tadi, pokok mengabdilah pada kyaimu, ikutlah dengannya karena ia menjadi barakah ilmu kamu, tak peduli udah merasa pintar dengan dirinya sendiri, merasa hebat, yang penting mengabdi udah itu saja, masalah jodoh belakangan aja, udah ada yang ngatur, kalau udah berjodoh malah jadi sibuk ngurusin ini itu, terputus pula kebebasan serta mencari ilmu kamu.” Khafidz mengelak dengan sanggahan bercanda, “Kata kyai saya, KH. Wazier Alie Lc pengasuh Asrama Sunan Ampel, ada santri yang menjadi susah menuntut ilmu dan menghafal, cerita beliau saat mengaji kitab Tafsir Jalalain, setelah santri itu melihat seorang cewek yang menyapu dan merunduk terlihat dua bola indahnya, ia menjadi gagal fokus dan sulit menghafalkan, sejenak beliau konsultasi kepada kyainya, dan akhirnya setelah ditelusuri penyebab oleh kyainya akhirnya ia dinikahkan dengannya dan mudahlah segala urusannya tentang ilmu.” Orang asing itu menyahut, “Ya kalau itu beda cerita lagi. Eh tadi maqra yang kau bawa apa? Surah apa, aku akan mencobanya kalau ada acara di sekitarku.” Khafidz menjawab seperti yang diutarakan tadi. Khafidz bergelut dengan akalnya, “Kenapa apa yang diutarakan dia seakan tahu segalanya, tahu fikiranku, tahu apa yang aku fikirkan, aku menjadi takut sendiri.”
Makanan dan minuman telah lewat dengan sendirinya. Orang asing tersebut memberikan satu piring makanan, Khafidz menolak lantaran pada sore hari itu sudah makan ketiga kalinya. Tetapi sejenak hati bercakap lagi setelah menghabiskan satu ice yang disuguhkan, “Aku ingin minum es itu lagi.” Langsung orang asing itu mengambilkan ice tersebut, “Mau ice?, ini saya ambilkan”. Khafidz gugup membisu tak bisa menolak maupun menerima. Dilahappun ice tersebut sampai habis.
Sebelum berpisah orang asing tersebut mengenalkan diri dan memberikan alamat rumahnya. Mereka bertigapun berpisah, shalawat sudah disanjungkan oleh MC sebagai salam pembubaran majelis. Saat berjalan keluar, Khafidz tetap berjalan merundukkan kepala, sekilas Khafidz berbincang sendiri dengan dirinya lagi, “Aku seperti sopir kyai, tetapi aku kecil, sedankan kenyataannya aku hanyalah orang yang menumpang di kendaraan gus Fiq.” Melihat pelukan hangat diberikan gus Fiq kepada orang yang telah mengundangnya. Di belakang Khafidz juga ikut bersalaman, tetapi berbeda dengan salam yang lain, ada kertas yang menempel, tak tahu apa itu langsung disaku sekejap dengan ucapan terimakasih atas semuanya. Ketika jari bersalam terakhir, ada seorang kakek tua berjabat tangan dengan Khafidz, ia memberi isyarat yang mana seakan Khafidz bisa membaca isyarat itu. Ia menggelengkan kepala sambil menunjuk ke Khafidz dan gus Fiq, Khafidz pun menundukkan kepala dengan isyarat “iya.”

Mereka berdua pun kembali dengan membawa banyak berkatan dari undangan tersebut. Mereka berdua duduk hangat di ruang tamu gus Fiq. Gus Fiq bertanya, “Tadi setelah acara apakah sudah dikasih amplop belum?, kalau belum aku kasih amplop sendiri.” Betapa murah hati gus Fiq, tetapi dalam benak khafidz “Aku ikut mengisi bukan karena amplop, tetapi karena lillahi ta’ala”, khafidz pun menyahut, “Tidak, aku sudah dikasih tadi.” Gus Fiq menekankan kembali, “Beneran sudah?, kalau belum aku kasih sendiri.” Betapa rendah hati gus Fiq, masalah permintaan bantuan qiraah mau diganjar sendiri lantaran apabila belum dikasih begitu juga saat beliau mauidzoh hasanah, beliau tetap rendah hati. Beliau merasa bicara blak-blakan, tidak sempurna bahkan merasa bicara memutar, padahal tidak ada yang mengelaknya. Al hasil setelah selesai berbincang, mereka berdua pun berpisah dengan ucapan salam kembali. Khafidz kembali ke pondok dengan membawa jajan banyak sebagai rasa suka dan syukur terhadap nikmat Allah yang mana pagi Khafidz belum terisi perut, malam Allah menimpakan rizki yang bighairi la yahtasib, wallahu’alam. (11/2019)
Previous
Next Post »
Thanks for your comment