(Sebuah tulisan tidak berguna, tragedi reuni ASA 15, demi ketemu kalian)
Pengertian reuni dijelaskan dalam aplikasi KBBI versi 5 android merupakan pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama. Jadi mereka mengadakan suatu perkumpulan khusus untuk bertemu saling mengenal masa lalu dan mengingat benih-benih rasa rindu yang tak sengaja muncul di era kini.
Biasanya reuni berbentuk labelling, maksudnya ia membawa label dari masa lalu atau nama sebuah ikatan. Seperti; reuni sekolah angkatan 97, setengah abad, reuni bani da’im, reuni jamaah haji dan lain sebagainya. Suatu perkumpulan tersebut mesti membutuhkan rundown acara, sesuatu untuk dimakan, dan yang pasti dana untuk kegiatan tersebut. Sehingga tidak jarang reuni yang menarik iuran atau uang sebagai jasa pengadaan reuni yang harganya tergantung suguhan. ada yang sepuluh ribu, lima belas, dua delapan atau lebih sebagai operasional reuni atau pembangunan hal yang lain.
Kegiatan reuni juga pernah diadakan oleh penulis status cukup panjang ini yang dapat dijadikan kumpulan cerita pendek yang mengkisahkan seorang tokoh pendiam namun selalu berani melangkah kemanapun. Rencana reuni dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2019. Reuni ini dilatarbelakangi keisengan dari saudara Khariri Firdaus. Ia berkata kepada khafidz saat buka bersama ke dua di rumah Laili Cahya Ningrum pertama kali. Ia berbicara ringan dengan penulis (khafidz), ”sebenarnya ini hanya guyonan, tapi kalau teman-teman nganggap beneran maka akan saya layani.”
Tiga hari sebelum acara buka bersama dilaksanakan aku merasa kebingungan. Aku memang memiliki uang cukup banyak dan berlebih. Namun, menurut saya itu harus saya sisihkan untuk keperluan menabung, dan menurut saya haram untuk diambil. Apalagi melihat dompet yang hanya ada uang tidak sampai dua puluh ribu untuk beli bensin dan iuran dua puluh untuk buka bersama.
Sambil berjalan aku berfikir dan curhat kepada ilahi, “dompet aku hitam kecoklatan ini tipis, ia tidak sampai memiliki uang berwarna biru. Terus bagaimana aku pulang? bagaimana aku iuran? apakah saya harus bertingkah seperti bonek? Sedangkan aku belum pernah demikian.”
Tiba-tiba ada pesan baru dari whatsapp, “mas qoyyim bisa ke TK al-Munawwar tidak, bantu aku isi raport, nanti saya kasih upah deh”. “enggeh bu”, sahut aku. Di dalam hati aku berfikir terhadap diriku bahwa aku akan mendapat uang untuk bayar berbuka yang mana mungkin akan ku dapatkan sebesar tiga puluh lima ribu. Al hasil terkadang karena berharap pada materi akan mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan bayangan. Aku gagal dalam menginput nilai pelajaran anak TK berupa soal cerita. Karena raport di setting oleh pembuatnya hanya berisi soal cerita dan nilai angka. Ia diharapkan ditulis dan dicetak dengan angka sehingga membuat aku kesulitan dalam menginput manual yang acak-acakan sebanyak puluhan anak didik. Apalagi dalam raport setiap kegiatan harus memilih foto yang ada foto murid yang bersangkutan. Karena aku tidak mampu untuk mengedit raprot sebanyak itu akhirnya saya menolak.
Esoknya saya dihubungi lagi untuk mengajar terakhir terkait dengan ekstrakulikuler hadrah di TK al-Munawwar. Aku datang dengan naik sepeda motor honda supra X 125 D berwarna merah hitam. Kedatanganku langsung disambut oleh anak-anak, “ustadz qoyyim esktra qiraah?”, “mboten, niki ekstra hadrah.” akhrinya aku berjalan perlahan menuju musholla untuk membuka pintu yang kunci saya ambil dari atas tali-tali bedug yang melilit berbentuk silang. Aku putar kunci itu dan terbukalah. Saat prosesi pelatihan aku sedikit kesulitan, karena aku hanya bisa melatih belum bisa mengkondisikan emosional adik-adik yang cara mendidiknya harus dengan emosi buatan.
Seusai aku melatih, aku masuk ke dalam kelas untuk mencari-cari absensi ekstrakulikuler. Akhirnya tiba-tiba saya dikasih uang oleh seorang guru TK al-Munawwar, “Ini buat kamu beli es”. setelah aku dikasih aku berterimakasih. Sambil duduk dan berbincang dengan adik-adik. Lama bersanding dengan mereka aku pulang dan kembali ke Pondok Pesantren Panggung Tulungagung.
Aku merasa bersyukur dengan uang yang pas untuk buka bersama di rumah M. Khariri Firdaus. Sekarang aku mulai berfikir bagaimana cara pulang. Aku mulai berprasangka bahwa kayaknya luthfia mau diajak pulang, karena kayaknya ia suk atau bisa dinggap nge fans karena aku dianggap baik padahal masih sebaliknya. Akhirnya malah ia merujukku kepada Ahmad Zaki Zein yang mau pulang pada hari jum’at.
Sebelum pulang aku buka bersama secara mendadak di Cafe Raja Resto Tulungagung, disana aku makan dan minum seharga resto lumayan murah, per porsi hampir tiga puluh ribu. Disana aku berbuka bersama dengan teman-teman KKN Banjar 1 IAIN Tulungagung.
Berkumpul terasa sedikit hambar karena laki-laki dan perempuan dipisah antara yang rame dan pendiam, sehingga aku tidak bisa bergerak mulut. Hanya bercanda ama teman saya Lukita.
Akhirnya aku pulang pada waktu jumat malam setelah shalat tarawih bersama di pondok pesantren panggung putri dengan menaiki motor yang mirip dengan motor saya supra X hitam merah, tetapi bedanya doble cakram. Jam setengah sebelas aku sudah sampai rumah, disana terdengar ayah saya mengaji al-Qur’an di musholla. Aku datang masuk dan abi terkaget. Aku bersalaman dengan penuh hangat karena bahagia pulang ke rumah.
Dua hari kemudian, aku di whatsapp oleh teman saya Laili Cahya Ningrum sekitar jam 12:30 .
“P”, Laili mengetik. “enggeh dirumah”, sahut ku.
“Ngkok bareng yokk ?, Gps e pakek hp ku”, ujar dia.
“motore sinten (emot whatsapp ketawa ngakak), motore tak tinggal Tulungagung, aku bareng ambi cah Kertosono muleh mambengi, smn enek motor nganggur ndak” aku berkata.
“Lo terserah khafidz pakek motorku gpp monggo, malah ak mau mikir kene sepedaan dewe dewe kok (emot whatsapp ketawa ngakak)”, kata Laili.
“Woh (emot whatsapp ketawa ngakak).. lah iki motor ayahku kyok ape kangge ngunu”, sahut aku.
“Hhh oke Nanti pakek motor ku aja”, tawar Laili.
“Enggeh”, aku jawab. Kemudian laili bertanya kepadaku, “Trus rencana mau smpean ape bdl ambek sopo?”.
“Waduh… Sek2,” aku menjawab. Laili berkata, “Oke, Ngkok tak ampiri nak omah brrti yaa?”.
Aku bertanya kembali kepadanya, “Jam pinten, bawa temen tah?”
“Habis ashar ta?, Nggk lah ngapain bawa temen (emot whatsapp ketawa ngakak) Sungkan nkok malah”, sahut ia.
“Jam pinten ..kira2, woh (emot whatsapp senyum dengan tetesan air bersalah di kepala pojok kiri atas) menowo..”, ujar khafidz.
“Set 4 ta jm 4 ?”, tanya Laili.
“Jam setengah 4 gimana nanti aku tak awali shalat ashar, nanti biar sedikit lebih santai pas ndek sana”, usul aku.
“Oke set 4”, Laili menyetujui usulanku. “Oke”, aku menjawab.
Waktu memang singkat dipandang diumur yang sedikit dewasa, apalagi yang sudah berumur tua. Konon katanya waktu itu menurut anak kecil sangatlah panjang, karena ia tidak terfikirkan akan kegiatan kesibukan yang lain, deadline atau lebih tepatnya otak ia dalam berfikir waktu relatif lebih lama dari pada fikiran orang dewasa.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu sore saat jarum kecil menunjukkan waktu setengah empat kurang tiga menit, aku mulai mengechat si Laili Cahya Ningrum sang perawat, “Udah siap2?.” “Sek bentar hhh”, sahut Laili. “Otw”, ucap laili. “Ok”, aku menjawab.“Ws ndk ngarep, Omah e smpean, P” ia ngechat aku terus sedangkan aku sedang disibukkan dengan sesuatu yang lain.
Sambil menata tas dan memakai jaket abu-abu variasi orange aku sudah siap untuk berangkat. Tiba-tiba aku mendengar suara sandal dari luar rumah. Firasatku dia sudah datang. “assalamu’alaikum”, salam terucap dari saudari Laili Cahya Ningrum teman sekaligus tetangga dekat dari nenek saya mbah Mukayah. “Wa’alaikum salam”, sahut aku dan ayah. Ayah langsung berjalan keluar melihat siapa yang berucap salam. Ternyata Laili, mereka berdua bercakap tentang siapa, anak siapa, dan lain-lain. Akhirnya ia berkata bahwa ia mencari anaknya, mau mengajak dia buka bersama menuju desa Weringinpitu, Mojowarno, Kab. Jombang.
Aku menghampiri ayah saya. Kami berdua berpamit salam. Kami berangkat satu motor sebenarnya terpaksa, karena juga memang aku berfikir kalau ini juga akan berpulang malam-malam sangat sehingga sesungguhnya aku tidak tega. Alasan kedua ialah sepeda motor ayahku sudah bergoyang-goyang karena seharusnya mau disetting velg, ganti gear dst sehingga belum layak untuk keluar, takut ketinggalan dengan yang lain. Setumpuk alasan tadi tidak kubicarakan kepada enam pasang telinga. Aku hanya ingin berangkat dengan selamat bersama teman yang bertepatan dekat dengan rumahku.
Aku naik motor matic scoppy hitam putih bersamanya. Diperjalanan aku lebih suka bercakap biar tidak kantuk. Aku mengatakan bahwa ini helm yang dikira jelek seperti satria baja hitam atau lebih tepatnya seperti alien berkaca bening. Aku sebenarnya sengaja berpenampilan aneh, tidak mau ganti. Soalnya memang aku belum suka berpenampilan dan memang belum saatnya kecuali saat ditanggap qiraah, hadrah, temu keluarga.
Aku perlahan naik motor itu dan memperlembut jalan, karena yang aku bonceng adalah cewek. Saat berada di jalan arah Bulurejo aku mengatakan dengan rasa sangat bersalah, “Aku oleh ngomong nggak?, sebenere aku merasa sangat khilaf, aku gak tau mbonceng arek wedok nek gak kepekso, iku ae seng tak gonceng mbak-mbakanku seng saiki wes tak lancarne nang mesir, aku ket biyen pengen kuliah ndek luar negeri, tapi aku durung due apalan, mosok hanya dua minggu aku harus hafal tiga juz?”, tiba-tiba mobil di depan ku mengerem mendadak. Kemudian aku mengucap maaf kepadanya.
Sambil melihat GPS saat pejalanan, aku pun merasa seperti kenal dengan jalan yang dilewati, seperti pabrik play-wood kayu dan jalan pertigaan Diwek. Saat aku berjalan dengan motor ini dibelakang mobil hitam. Aku berfirasat kalau aku terlalu dekat dengan mobil itu. Ternyata firasatku benar, ia berhenti dengan mendadak akhirnya aku juga menekan rem keras-keras dengan kedua tanganku. Dengan mendadak dia terjorok tubuh ke depan. Aku berkata, “Sepurane, aku gak sengojo, kui mau enek mobil ngerem dadak”, “iya gak popo”, jawabnya.
Karena aku mulai nggak suka dengan keadaan, perlahan-lahan malah mengerem mendadak, akhirnya aku mengambil langkah untuk memperkeras laju motor. Aku menjadi lebih garang dari sebelumnya. Aku tengok kanan dan kiri, aku melesat kencang sampai menemukan jalan kelok seperti yang dikatakan oleh pemegang sekaligus penunjuk arah. Ketika sudah mendekat dengan pertigaan aku langsung menekan tombol reting ke arah kanan. Aku menuju jalan yang lurus dan tetap bercakap-cakap.
Jalan raya hitam sudah tidak menunjukkan rasa persahabatan. Mereka menujukkan kejelekan sikap yang membuat tangan dan tubuh gemetar kesakitan. Mulai dari lubang kecerobohan sampai gundukan selotip yang menyiksa. Disitu membuat aku teringat dengan jalan kediri. Kadang juga aku berburuk sangka, apakah ini perbuatan dari tukang pembenah jalan yang menembel tanpa izin atau hanya sekadar menembel sambil meminta uang diperjalanan ataukah faktor lain. Kemudian aku bertemu lagi dengan pertigaan, aku berbelok masuk mengikuti arahan si penunjuk arah Laili Cahya Ningrum si Perawat. Ketika sudah menelusuri sampai ke jalan kecil, kami mulai kebingungan, manakah rumah dari saudara Khariri Firdaus?. GPS sudah mulai berteriak mengatakan sudah sampai. Aku dan Lail bertanya kepada tetangga tetapi tidak ada yang kenal dengan inisial khariri, daus atau firdaus.
Akhirnya Laili menghubungi Diah Wahyu Efendi untuk menunjukkan lokasi tempat. Aku akhirnya memutuskan untuk berputar balik ke belakang untuk mencari lagi gambar yang sama dengan Google Map. Kemudian dari depan terlihat samar seperti Daus, semakin mendekat semakin berbeda. Ia kemudian memperkenalkan diri bahwa ia adalah kakak dari Daus. Dia menunjukkan arah kalau ada pertigaan belok kiri, kemudian aku dan Laili kebingunan, terlihat Daus berdiri tegak di luar rumah, akupun langsung bergegas ke rumahnya.
Terlihat senyuman sinis seperti tidak bersahabat melihatku. Aku memang dari dahulu suka berakting sehingga ketika aku dalam hati memiliki perasaan yang sangat berbunga tapi terlihat biasa, saat hati biasa terlihat berbunga. Hanya sahabat dan teman dekat yang tahu sejatinya siapakah diriku. Aku memasang wajah biasa saat ia melihat keanehan bahwa aku dan Laili berboncengan. Kemudian dari dalam Diah Wahyu dan Konyel keluar rumah juga terlihat wajah senyum bahagia, “cie boncengan ama khafidz.” karena kami berdua memang tidak memiliki perasaan satu sama lain. Kita tetangga dan juga kita memiliki riwayat pertemanan sejak zaman muda ayah kita, bahkan aku juga sampai bertanya kepadanya, sebenarnya kita tetangga, atau saudara. Ia malah menjawab kita saudara aja.
Sambil menunggu magrib aku membantu Daus untuk menyiapkan makanan untuk sebagai santapan berbuka bersama. Saat kita yang kira-kira berkumpul berjumlah belasan, terdengar suara samar-samar seperti adzan, akhirnya ada yang berbicara, “sudah adzan, yoh buko.” Sebenarnya itu bukan dari suara adzan tatapi suara mic yang dimainkn atau memainkan musik Qiraah sebagai pra-Shalat berjamaah di masjid. Kami tertipu, sambil bercanda ada juga yang mengatakan, “adzan magribe melu suroboyo, suroboyo wes buko.”
Dari samping terlihat si Gadies mantan Sahabat saya dan hampir jadi kekasih karena saya kehilangan jejak si dimpled cheeks (pipi lesung) Rini Yulia Maulidah. Aku tidak tahan melihat wajahnya, soalnya saya menghindari madharat yang berupa rasa suka terhadap sikap rajin dan istiqamah yang dimilikinya, apalagi sekarang ia memiliki salah satu kekasihku yang bernama bahasa inggris. Mereka terus bercanda tiada habis sampai habis tarawih. Karena berjam-jam berkumpul mulai muncul bosan. Daus dan teman-teman mulai memancing kebercandaanya terhadap namaku. “Nek Qoyyim pie, ambi Gadies”, “Ojo mengko mutung, wes gak tau ketemu e, iki wes ketemu.” sebenarnya kebertemuan itu ditentukan dengan keadaan dan waktu, pada waktu itu merupakan waktu rupek yang aku miliki.
Waktu menunjukkan pukul sembilan, ada yang mengusulkan bernama m. Fatkur Roqim mengatakan, “Mat, soumuk neng kene, gak pengen metu-metu.” lama berlama memancing akhirnya secara tak langsung mereka menyetujui untuk berangkat bersama ke taman Mojowarno yang berbentuk seperti alun-alun kota Kediri.
Dari situ ketika mau keluar aku menghampiri Laili Cahya Ningrum untuk berdiskusi samar, “Bukankah sampean digoleki ambi ibuke smn?, di kon ojo muleh bengi2?.” Ia menyahut bahwa dalam hatinya sedang bergumam apakah pulang dengan terpaksa pamit atau pulang nanti dengan waktu kode untuk pulang sambil mulut Laili berucap, “iya, aku bingung, iki aku digoleki ibukku, ngerti toh nek ibuk khawatir ambi anake, jane aku biasa ae, tapi smn ketoke jek pengen kumpul ambi arek-arek.”Aku biasa ae, terserah aku manut sampean”, sahut aku. Daus dari samping mendengar pembicaraanku, akhirnya merampas helm kita sambil berucap, “wes to nginep nang kene ae, opo kudu tak rayu ibukmu ben gelem nyetujui nek anake nginep nang kene.” Diskusi berkecamuk sehingga aku menunggu keputusan akhir Laili yang berisi untuk ikut tapi tidak terlalu malam.
Kami berboncengan berdua kembali disaat mereka berboceng dengan sejenis gender mereka. Aku mulai menutup rambut saya dengan tutup jaket yang aku angkat dari belakang. Kamipun berjalan menuju taman Mojowarno. Aku juga berfikir untuk berhati-hati karena memang dibelakang saya cewek, bukan cowok sehingga aku tidak tega untuk berjalan cepat kembali.
Kamipun sudah sampai tepat di warung kopi. Dalam hati tadi saya berfikir bahwa kita akan bersenang-senang dengan menyayi di kafe kecil-kecilan ternyata hanya warung kopi dengan wifi, meja kecil yang panjang beralaskan terpal dibawah pohon samar-samar. Mereka mencari tempat kumpul khusus yang tidak terlalu gelap ditakutkan terlihat seperti bocah nakal yang kelihatan seperti pacaran berjamaah.
Zaman sudah mengatakan, semakin maju zaman semakin fokus pula dengan hal yang berbau teknologi. Biasanya berkumpul hanya bercanda, ini kumpulan terfokuskan dengan teknologi android dan sosmed yang membuat ia berbicara dengan hati sendiri. Akupun juga demikian, namun aku sesekali melihat hape sambil membaca tentang ritual pidakan yang asal-usulnya diambil dari ritual para sufi untuk menghapuskan dosa orang yang telah meninggal dunia.
Aku sudah merasa risau dengan waktu, akhirnya aku memandang dan berdiri dihadapan Laili untuk mengajaknya pulang. Teman-teman mencoba mencegah karena sudah malam sangat dan aku dikasih takut dengan perkataan mereka awas ada apa-apa, awas jangan lewat gelap, awas ada apa dst. Aku tetap tidak takut karena aku masih memiliki jumlah iman yang cukup kuat sehingga aku tidak gentar dengan apapun apalagi dengan hantu di bulan ramadhan. Kami pun pulang, tapi sigma bilang “Ojo nang omahe Daus, mene helm mu tak terno.” kami langsung pulang ke rumah lewat kota tanpa helm.
Sebelum pulang aku berbicara dengan hatiku sendiri, “Bukankah laili akan kedinginan di malam hari dengan gaun itu?.” Kami berjalan perlahan kadang dipercepat karena memang waktu sudah terlalu larut malam. Sesekali diperjalanan aku merasakan pelukan kedinginan. Aku memang tidak pernah dipeluk kecuali ayah dan ibu ku. Aku kadang berfikiran aneh yang tidak sengaja terbesit di dalam otak kotor saya. “Inikah dinamakan pacaran, ternyata enak juga.” Disamping itu juga otak saya berdiskusi kembali. “Bukankah ia juga kedinginan, mau aku tawarkan tadi tapi ini masih dalam perjalan yang cukup ramai jalannya dengan kecepatan cukup kencang.” Memang sebelumnya aku ketika KKN sengaja membuang gaya santri ku yang pendiam, semangat, rajin, dan lain-lain. Yang tersisa ialah hanya semangat dan suka bicara yang sengaja saya buat-buat dan malam khusus saya berkomunikasi dengan Allah secara diam-diam tanpa suara.
Perjalanan kota jalan sempit aku juga tidak sengaja membuka kartu masa lalu ku dengan gadies. Sebenarnya aku suka ialah dari ia semangat, rajin dan care nya dengan organisasi sehingga aku lebih berani melangkah maju secara diam-diam yang akhirnya diketahui oleh Jazilatul Hikmiyah. Terus laili mengancam saya dengan ucapan, “Aku lambe ember loh, jadi nggak isok nahan rahasia.” “Ojo ngawur ae, iki rahasia masa lalu, aku wes gak kepikiran dengan hal itu lagi apalagi dengan hubungan, pokok titenane saat wajahku resik gak ada jerawat berarti aku tidak berkata dan berfikiran apapun dengan siapapun”, aku menahan kehendaknya. Kemudian ia menyahut, “iya-iya tak jaga rahasiamu.”
Tak terasa jarak sudah dekat dengan rumahnya, ia mengatakan kepadaku bahwa ia memang benar-benar merasa kedinginan. Terus aku mengatakan kembali kepadanya, “sak durunge moleh aku wes mikir, Laili kademen ta gak, soale yo wes bengi, arepe tak silihi jaketku”. Laili berbicara kepadaku, “Bukane smn tambah malah kademen, smn kan kecil awake?.” “iya memang tapi aku udah pakai baju dua (alasanku sebenarnya aku kedinginan namun aku lebih gak tega lagi apalagi dia yang lebih kedinginan bisa dianggap juga perasaan nurani laki-laki yang suka sedikit berkorban demi orang lain).”
Aku bawa Laili ke rumahku, karena aku mau ambil motor, malu kalau ketahuan membonceng anaknya. Malam-malam sangat saya pergi kembali ke rumah Laili dengan motor sendiri-sendiri sehingga tidak ketahuan bahwa aku sengaja berboncengan karena dua alasan di atas. Kami pun saling bertukar salam selamat tinggal. (ditulis 8 juni 2019 pukul 06: 16 WIB).
ConversionConversion EmoticonEmoticon