Ternyata Masih Mimpi

Ternyata Masih Mimpi
Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
Suatu ketika ada sorang pemuda yang bermuka tampan, pendek, berkulit putih bersih. Dia datang dari tulungagung sepulang dari skripsi pindah ke pondok yang lama untuk mengabdi sebagai alumni senior di sana. Ia berjalan serasa semuanya telah berubah. Pondok pesantren sunan ampel sudah seperti rumah megah nan tinggi. Tembok putih berlapis emas. Saat datang ia terbayang “berapa lamakah aku tak pulang?, gedung di sini sudah megah nan mewah seperti demikian.” 
Saat melihat-lihat kemewahan yang terpampang dari luar. Ia merasa tidak enak karena perjalanan jauh menuju ke kota santri. Ia ingin membersihkan diri dari kotoran-kotoran yang menempel di tubuhnya. Dengan lepas hem bercelana rapi ia menampakkan pakaian yang ada di dalam hemnya dengan berkaos merah bercelana pendek biru. Ia pergi untuk mandi. Sasat masuk ke gerbang kamar mandi. Tembok berdiri tegak nan lurus sangat tinggi. Pintu ke kamar mandi berubah menjadi pendek separuh badan kotak tanpa pintu. Berjalan diri merunduk sebagai ketawadhu’an secara sikap dengan sesama teman saat mau mandi. 
Anehnya ketika masuk ke dalam, aku melihat 6 petak yang saling membelakangi berdempet ditambah satu tempat yang lebar untuk mencuci pakaian. Tempat itu sungguh baru setengah jadi. Masih ada semen-semen yang belum menyatu utuh. Sehingga membuat santri untuk mencuci secara bersamaan. Seusai mandi ia bergegas untuk pergi ke sekolah muallimin untuk mengajar kitab. Ia datang terlalu awal ke kelas bawah auditorium. Memutar-mutar sambil memegang ponsel lalu ditaruh lagi dalam tas kecil berwarna biru.
Tak lama kemudian adzan berkumandang. “Allahu akbar- allahu akbar.” aku bergegas untuk memenuhi panggilanmu ya Allah. Ia berangkat ke masjid dengan berjalan kaki untuk mendirikan shalat berjamaah. Seusai berdo’a dia kembali ke pondok. Terlihat dari jarak dekat ia melihat teman bernama salman. Dengan muka penuh gembira dan senang berambut gondrong memakai baju busana muslim abu-abu tak berkopyah, ia menemuiku. Seakan muka senyumnya membawa berita gembira. “sini hafidz, aku ingin menunjukkanmu hal yang indah!”, ujar salman. “mana salman, tunjukkanlah kepadaku, apa yang ingin kau tunjukkan!.” ia merangkulku sambil berjalan senyum. Ia ingin mengenalkanku kepada kerumunan cewek bertiga di undakkan masjid jami’ Denanyar. Disitu ada cewek cantik dalam versi benak khafidz. Dengan mendadak khafidz berkata “aku tak mau menemuinya wahai salman, aku sudah lama tak bertemu dia, aku tak ingin menemuinya.” “sudahlah jangan malu temui dia,” himbau salman. Hati kecil khafidz berkata “dia masih tetap indah dengan senyuman tipis dan lesung di pipinya, aku mengata tak ingin bertemu, tapi sejujurnya aku ingin berjumpa, baju putih, kerudung putih dengan muka coklat matang yang bercahaya menghiasinya menambah kecantikan sebagai ekspresi keeksistensiannya, aku rindu padamu, aku ingin bertemu denganmu, aku mencintaimu.” 
Sekelebat aku terbangun, ternyata hanya bunga tidur. Ia serasa nyata. Padahal tak pernah memikirkannya sebelum terlelap. Saketika itu khafidz pun langsung mengambil air wudhu langsung shalat malam. (kha/19-06-20).

Previous
Next Post »
Thanks for your comment