(The journey to Kelud mountain with Thailand tourist and children of panggung cottage)
Jalan-jalan atau touring sudah tidak asing istilahnya bagi pemuda atau dikalangan semua umur. Bahasa Jawa disebut dengan istilah mlampah-mlampah. Kegiatan ini dilakukan untuk menghilangkan penat pada umumnya. Ada juga yang sudah mencapai level hobi secara kontinyu.
Sebut saja teman saya Anas. Ia asli Thailand. Ia berkulit putih, berjenggot, brewok dan tinggi. Ia mengatakan touring atau jalan-jalan sudah sebagai rutinitas nya. Dalam hal ini, bekalnya bukan dari minta kepada orang tua, bukan kerja dan bukan pula beasiswa, tetapi ia dapatkan dari celengan yang ia tumbuk. Begitu juga dengan saya.
Rekreasi yang ia lakukan mungkin lebih kompleks daripada orang asli Tulungagung, bahkan lebih banyak tahu tentang spot rekreasi daripada penduduk setempat. Ia pernah ke Bromo, Gudek, pantai-pantai Pacitan, kampung susu, kampung coklat, TMII bahkan gunung Kelud udah ketiga kalinya.
Awal perjalan kami dimulai saat anak Thailand (Anas dan Ahmad) memulai berlibur dengan kesepakatan adik-adik kamar bonang. Yang berminat ada lima anak, diantaranya; Jimly, Rajiv, Ulil dan yang keduanya aku tidak hafal :). Pada malam harinya ia bercerita kepada ku akan pergi ke Kelud. Aku juga balas cerita tentang wisata yang pernah ku pijakan kaki. Yakni gunung Gudik, pantai pacar, pantai gemah, dan pantai-pantai arah Pacitan. Saat itu pula aku berkata "aku jarang berkelana, kecuali aku dibonceng atau diajak". Akhirnya sepulang itu dimalam hari dibawah tangga MA Al-Maarif Anas bercakap banyak kepadaku terkait suasana keberadaan relasinua dengan sesama Thailand, kegiatan yang sudah terlewat, masa lalu di pondok gubuk, sampai cerita tentang wisata sebagai hobi. Akhirnya ia menawariku kepastian untuk ikut dengannya ke gunung Kelud Kediri. Akupun mengiyakan dengan syarat jangan terlalu kencang saat bersepeda, karena sepeda saya rada Lola saat perjalanan, apalagi tidak bisa menanjak dengan cepat ke atas.
Tak terasa sudah pagi hari, adzan berkumandang tanda mau shalat. Kami pun bergegas untuk menjawab panggilan Allah. Se usai shalat berjamaah kami berpindah tempat untuk meraih air ke raga. Menahan meskipun dingin mencela. Dengan pakaian berjaket biru, berbaju Hem pondok hitam berkerah, dan bercelana olahraga hitam biru dengan memakai tas di pundak aku siap berangkat.
Dug, dug, dug suara motor Honda pelan aku jalankan. Ahmad menunggu kita di parkiran SD Al munawwar. Kami datang dan berangkat. Aku menggonceng satu orang bernama Rajiv. Lainnya menggonceng 2-2 tanpa helm. Aku bertanya, "bukankah disana akan ada polisi dijalan?". Ia menjawab "aman, kita akan menjelajahi tempat yang aman".
Diperjalanan kita saling mengisi bensin untuk berjaga-jaga. Aku menghabiskan 13 ribu pertalite yang mana tak terasa saat dipuncak sudah habis isinya. Sebelum beranjak ke Kelud kami groovy di depan pom bensin Ngantru. Jalan ramai sedikit mengganggu posisi foto kami (sebenarnya kami sih yang mengganggu). Dilanjutkan lagi perjalanan.
Saat sampai gerbang Kelud selamat datang kita bertukar posisi, aku membawa 2 anak dan Ahmad membawa hanya satu anak. Ia takut dengan Shogun "yang lain pasti ketinggalan" sedikit tua renta tanpa tenaga kuda tidak kuat mengempas likunya ketinggian. Akhirnya akulah yang membawa dua anak tersebut. Meskipun di dalam hati mengata "sepeda motor ku Honda, ia cepat di dataran, aku takut ia tak kuat menanjak, soalnya ia belum disetting gunung". Bismillah terucap semoga kuat.
"Eng ing eng" suara tanpa rasa tak sengaja motor ku Honda kumat. Perseneling tidak bisa diturunin. Akhirnya dengan sangat peka yang saya bonceng turun. Kalau tidak turun sih kita turun bersama. Ia mendorong dan menahan. Akhirnya perseneling bisa turun. Aku melaju dengan cepat sambil menunggu jalan rata. Mereka berjalan dengan letih tapi bersemangat.
Ketika sudah ditengah perjalanan kita pun berhenti untuk mengabadikan momen. Sambil mengencangkan kaki dan punggung. Tubuh sudah lemas kami mulai lagi dengan perjalanan menanjak ke lereng gunung. Dalam hati semoga kita tidak berjalan kaki. Konon katanya kita harus menanjakkan kaki sepanjang tiga kilo. Sama seperti berjuang menarik jodoh dengan langkah yang tidak lah singkat.
Perjalanan dilanjutkan kembali. Kami dihadang dengan parkiran mobil, kita elak dengan jalan lurus. Dengan pelan-pelan kita dihadang dengan parkiran motor. Tempat parkir yang tidak bisa kita lewati. Kami pun parkir dengan gratis diterik yang silau belum cukup panas. "Naik-naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali, kiri kanan kulihat saja banyak pohon strawberry" aku bernyanyi sambil menanjak jalan setinggi 50 derajat. Sungguh menyiksa kaki bawah. Ditengah ada tempat duduk, aku terinspirasi dengan nya tentang Quote dan Angel untuk berfoto. Aku duduk sendiri minta difoto Ahmad sambil menoleh ke sisi yang lain dari kursi panjang itu. Itu menandakan masih kosong diri dari pasangan "hanya bergaya saja".
Dilanjut lagu dengan naik naik. Kita bercanda dengan senang-senang. Luki berjalan lebih cepat demi ingin duduk bersantai. Dari belakang ada yang melempar batu. Luki dengan santai menghindari batu tanpa ekspresi. Aku berjalan seperti pendaki gunung seakan membawa tongkat (padahal tidak) dengan maksud aku sudah lelah naik. Akhirnya sudah berada di puncak ketinggian, eh ternyata perjalanan masih 1 KM ke bawah. Dengan terpaksa memaksa kaki kecil berjalan ke sana.
Diperjalanan kita diketemukan dengan jalan yang tak layak pakai, Goa, seperti sungai. Kita bingung, "akankah kita melewati goa ataukah melewati jalan?". Akupun memutuskan, "Kita akan berjalan dijalan ini dulu, baru pulang kita lewat goa".
Di puncak gunung Kelud kita diperlihatkan dengan kawah kuning dan pasir hitam dengan hiasan angin menghembus. Sejuk, tenang dan senang meniup hati. Dari situ kita take some picture bersama sesuai gaya masing-masing. Aku berfoto sesuai gayaku yang dulu dengan tangan mengepal ke depan yakni semangat dan berfoto gaya kesukaan saya yakni silat. Yang terlupa ialah satu gaya tangan mengepal dengan menunjuk ke depan tanda aku menerima dan yakin bahwa aku akan menang akan challenges. Disitu terlihat dua cewek diatas terowongan sambil bercakap. Aku bilang kepada Ahmad anak Thailand, "tidakkah kamu ingin berfoto dengan mereka? Dengan yang cantik-cantik, Bilang saja aku tourism Thailand, buat kenang-kenangan", ia (anak Thailand) tidak mau, malah membalik kata, "aku bilang kepada mereka, kamu yang foto". Aku menjawab "tidak kamu aja".
Selesai berfoto ria diatas kawah, kamipun bergegas turun dengan melewati goa yang saya janjikan. Goa gelap melembab, tidak ada cahaya kecuali dari luar dan sumber pencahayaan elektronik yang dibawa selalu. Ahmad merekam video dengan Anas memakai bahasa Thailand, aku terdiam bengong sambil jalan. Akhirnya aku menyerang nya dengan bahasa Jawa kedalam video. Di tengah jalan ada lubang kelelawar, tempat paling lembab dan gelap, aku mau berfoto tapi takut nanti kalau keluar semua, soalnya tempat itu sungguh sempit.
Tanah becek, kaki berhati-hati melangkah keluar. Akhirnya kami keluar dengan selamat. Ulil bergegas mencari tetesan air untuk diminum bersama teman-temannya, Anas pun melarang, karena air itu dari gunung, dan gunung Merapi aktiv maupun pasif pasti mengandung gas, meskipun jernih sekalipun. Aku hanya mendinginkan tangan agar tetap nyaman diterik matahari. Dengan tingkah aneh Ulil naik ke atasnya goa dan bertingkah lucu seperti kucing (kata Anas). Ia mengambil momen lucunya untuk disimpan di alat lelahan. Akupun tak mau kehilangan momentum, aku minta ia gaya mau jatuh, aku yang akan menangkapnya. Tangan mengada keatas seakan mau menangkapnya.
Perut memberontak, leher berteriak kamipun kembali dengan letih dan lapar. Turun perlahan dari gunung. Aku mengambil momen untuk berlagu pendek dari sukarol munsyid. Nadal Munadi itulah nama lirik lagunya. Dengan Confidence aku berniang suara memakai tripod kecil dengan memakai headset. "Nadal Munadi di killing Wa'di....". Kaki sudah mencapai pedal motor, kami pindah turun dengan pusaran roda kecil dua dengan perlahan. Dahaga tidak tertahan kami pun berhenti di warung kopi untuk beristirahat bersama mampir ngombe.
Seusai istirahat kami berjalan kembali dengan motor masing-masing. Turun perlahan. Tangan menggenggam keras untuk menggesek jeruji agar tidak terlalu liar dalam berjalan. Hati menangkap khawatir saat arus curam. Kami hanya bisa menikmati dan berharap agar turun dengan selamat. Si driver khafidz rada khawatir dengan sepeda motornya yang udah saatnya ganti kampas rem. Hanya doa dan ikhtiar yang menentukan. Pasrah tertatap kepada sang pemilik langit, tiada daya dan upaya tanpa Nya untuk memberi kasih kepada kami. Akhirnya kita turun dengan penuh riang.
Perjalanan pulang ditutup dengan istirahat sebentar di kontrakan Thailand depan IAIN Kediri kota. Kami tidur disambut dengan tiga kipas angin dari seluruh penjuru sisi. Tanda kemuliaan terhadap tamu agar tidak terkena panas memukau. Sebelum terlelap aku menyeru dan seketika mencari makan bersama adik-adik dan Thailand untuk cari sarapan disiang bolong. Telur makanan kesukaan ku, ia selalu menemani ku di dalam hati dan lidah. Akupun memilih telur dan Bali sebagai santapanku. Mereka memilih banyak menu yang di mix menjadi satu. Ada pula yang lebih memilih ayam geprek. Disaat disuguhkan minuman, kami disuruh request kepada pelayan kecil gemuk tapi menawan (zona dilarang gombal mukio), ia menawari minuman. Aku dengan anehnya karena pilek melanda, aku lebih memilih jeruk hangat, eh malah dikasih jeruk panas. Lidah terasa sedih tubuh kejang, akhirnya sebelum aku menghabiskan minuman ku aku minum sesuap es jeruk untuk mendinginkan si lidah.
Kami kembali dengan perut kenyang. Sebelum aku beristirahat aku bermain hape dengan bermain game yang viral, em El. Seusai bosan nggak ngantuk-ngantuk. Aku mendengar lagu banjari SNZ- Subhanallah dan video kocak dari ipride saat bermain Fanny dengan kata-kata kocaknya yang tidak patut untuk pemuda. Mata kering mengkerut, hendak tidur, suasana mengingatkanku "janganlah tidur sebelum shalat". Akupun shalat dan langsung tidur sesaat.
Mendung mengitari langit, Anas membangunkan ku dengan tidur terlalu singkat. Aku pun mandi dan shalat lagi ashar. Tak lama kemudian ia mengajak untuk pergi ke simpang Lima gumul sebelum hujan melanda kita. Di perjalanan kita melanggar aturan dengan menabrak satu arah tanda terong yang menyelamatkan kami. Tanpa helm dibelakang khawatir mengincar. Se sekali kita melewati batas polisi, mereka diam tak tahu mereka melihat atau tidak, aku cukup menghadap ke depan fokus ke imam perjalanan.
Kita sampai pada sore hari, langit menguning. Kami parkirkan di depan jalan gumul. Kamipun berfoto sebelum balik. Aku tetap dengan gaya tangan ke jaket, atau tangan mengepal, atau dengan gaya silat yang selalu menyertai ku (meskipun gak mahir silat). Langit mulai menggerutu untuk mengingat kami pada tarawih pertama. Kami pulang dengan cukup cepat. Tulungagung i am coming. Jalan gelap gulita, aku diberi isyarat untuk memilih baris depan sebagai pimpinan. Lika liku lobang menantang ku untuk melewatinya. Pantat berteriak sakit saat gagal berliku. Aku berhati-hati atasnya. Tak lama kemudian kami sampai ke Munawwar untuk shalat Maghrib sekaligus isya dan tarawih. Kamipun kembali dengan selamat, tiada kata yang terucap kecuali Alhamdulillah, subhanallah dan masyaAllah. Sekian. (Ahad, 5Mei2019)
ConversionConversion EmoticonEmoticon