Naksir Membawa Petaka

Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
Peneliti Pusat Studi Pesantren

     Mondok sering dikatakan oleh para santri dengan simbol penjara suci. Dikatakan seperti demikian karena memang kegiatan bermukim di pondok dilakukan hal yang bermanfaat meskipun di sisi lain terdapat hal yang menyeleweng seperti pelanggaran diri terhadap peraturan pondok dan sebagainya. Tapi hal itu dianggap wajar bagi kebanyakan santri. Bahkan ada yang berbuat nakal seperti teman saya di Asrama Sunan Ampel yang berada di Yayasan Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang mengatakan bahwa ada seorang santri, dia hampir setiap malam terkena hukuman akibat melanggar peraturan pondok. Setiap malam ia keluar naik pagar, sekitar jam 12 malam. Batasan keluar pondok pada saat itu mulai jam 9: 30 malam sampai dengan 11: 30 malam. Tanpa sepengetahuan pengurus KH. Ahmad Wazier Ali, Lc selaku pengasuh pondok memantaunya di sisi gelap dalem tepatnya ruang tamu. Terlihat seorang santri sering melompat pagar setiap malam, akibatnya kyai mengutus pengurus untuk menggundulnya dihadapan para santri pada malam berikutnya. Hukuman menengah berupa gundul sudah tidak mampu direalisasikan lagi, karena memang rambutnya sudah gundulnya.
     Akhirnya ia dihukum dengan hukuman ringan membaca al-Qur’an dimalam hari sambil berdiri berjam-jam. Ketika ditanya “kenapa kok sering melanggar peraturan pondok?, apa nggak bosan dihukum?.” Ia menjawab dengan senyuman ringan, “ini aku lakukan demi perhatian dari kyai”.
     Memang diperhatikan kyai itu bagus, tapi menurut hati kecil saya mengatakan ridhanya-lah yang lebih penting dari apapun. Sering dikatakan oleh para asatidz Asrama Sunan Ampel bahwa keridhaan kyai dan ustadz lebih penting dari apapun. Jika mereka tidak ridha, maka akan membawa malapetaka berupa kesulitan dalam keberkahan ilmu dan lain sebagainya. Cerita di pondok memang unik-unik khususnya yang pernah memasuki zaman kriminalitas dan kegelapan, pondok serasa tempat angker, suram, penghuninya menakutkan yakni pada tahun 2010 ke bawah. Berbeda dengan sekarang zaman modern penuh warna dan perubahan, sehingga kisah-kisah unik seperti masa lalu sulit didapat kembali meskipun ketika kita merasakannya terasa pahit.
     Mondok di pesantren pada umumnya dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Meskipun berjarak minimal 20 meter antar asrama atau pondok. Bahkan sampai jalan keluar pondok dan sekolah dipisah untuk meminimalisir hasrat bermaksiat dan madhorot yang dapat merusak niat murni para santri untuk menuntut ilmu. Salah satu ciri khas pondok pesantren yang ditempati oleh penulis yang akrab dipanggil Din (KH. Ahmad Wazier Alie, Lc selaku Pengasuh Asrama Sunan Ampel Denanyar Jombang) dan Kang Khafidz (teman-teman dan tetangga di rumah serta teman kuliah di IAIN Tulungagung) ialah terpisah jalur antara pondok putra dan putri. Santri putra lewat jalan umum sedangkan santri putri lewat jalan khusus yang disediakan di dalam sela-sela bangunan pondok putri. Bertemu adalah keniscayaan, tetapi hanya moment ngaji dan sekolah yang dapat mempertemukannya. Itu saja merupakan moment yang langka dan tak selalu bertatap muka antara mereka disetiap waktu.
     Diawal mondok sering diingatkan secara rutin oleh KH. Ahmad Wazier Alie, Lc selaku pengasuh Asrama Sunan Ampel bahwa santri itu harus kuat tirakat, moco lan melek. Beliau secara rutin mengingatkan para santri, khususnya santri baru yang sedang proses adaptasi dengan lingkungan pondok. Disisi lain beliau juga sering mengingatkan masalah ujian santri dalam menuntut ilmu ialah masalah wedok, uang, dan jabatan. Uraian ini juga sering diulang oleh KH. Haramain Asy’ari, MSI selaku pengasuh Asrama Sunan Ampel Juga. Jika santri mulai terperdaya oleh tiga aspek ini, maka secara sadar ataupun tidak ia akan terganggu proses belajar dan kualitas menuntut ilmunya.
     Suatu hari ada santri yang akrab dipanggil kang Khafidz mondok di Asrama Sunan Ampel. Ia bertubuh pendek, bermata hitam lebar, hidung mancung, kulit sawo matang, senyum manis cekung di pipi. Ia mulai mondok pada tahun 2009. Awalnya minder, karena jauh dari orangtua, teman dan keluarga. Namun, dengan dorongan orangtua yang kuat dengan berbagai pengalaman, penguatan niat dan dalail yang sering dibacakan kepada anak sehingga membuahkan tekad yang dalam ke dalam pribadi anak. Masuk pondok ia melihat satu kotak almari yang terdiri dari 10 pintu. Setiap santri diberi wewenang satu pintu. Khafidz mendapatkan almari yang pendek bertinggi satu lengan berlebar separo lengan anak SMA. Melirik ke samping terasa suram. Kayu retak, ada yang hancur, ada pula tanpa palang pintu. Tidak tau sebab apa.
     Di Asrama Sunan Ampel menyediakan sekolah sore yang sedikit beragam dibanding dengan pondok lain. Ia memberikan pilihan 4 program sekaligus yakni Diniyah, LBAI (Lembaga Bahasa Arab dan Inggris), Tahfidz al-Qur’an, dan SAKAL (Sekolah Kaligrafi Al-Qur’an). Setiap santri baru dan lama harus memilih salah satu program. Kegiatan sekolah sore ini dilakukan setelah terpenuhi KBM Sekolah formal. Melihat sekolah yang dipilih Khafidz saat MTS adalah kelas D yang disebut sebagai kelas RMBI (Rintisan Madrasah Berstandar Internasional). Maka Khafidz memilih LBAI sebagai sarana memperbanyak pengetahuan tentang berbahasa bilingual.
     Setiap hening malam para pemuda desa Denanyar disibukkan dengan minum kopi, makan, nonton tv dan berkeliling. Berbeda dengan santri, mereka disibukkan dengan mengaji kitab-kitab khusus yang disesuaikan dengan kelas yang diampu. Khafidz belajar ruangan perpustakaan di bawah Auditorium Mamba’ul Ma’arif. Ruangan yang tersusun dengan pintu putih menghadap ke utara dan selatan, rak buku yang panjang menghadap barat serta satir yang berupa rak buku menghadap kedua sisi pemisah antara santri putra dan putri. Di tengah terdapat meja bundar kecil terbuat dari kayu dan satu tempat duduk yang bersandar melingkar. Tempat yang lebih tinggi dari para santri, tempat kemuliaan bagi para penuang bahrululum.
     Selang beberapa minggu kemudian. Terdapat interaksi beberapa santri putra-putri. Seiring dengan melempar kertas, kerudung, kopyah, kertas PDKT, sampai berani ngobrol jarak jauh mereka mulai saling mengenal. Interaksi terlalu PD dihadapan orang lain biasanya disebut santri disitu CaPer (cari perhatian). Khafidz disitu merasa risau karena interaksi antara santri lawan jenis cukup mengganggu ketenangannya. Teman-temannya sudah saling mengenal, justru Khafidz merupakan santri yang cukup lama mengenal lawan jenis, kecuali terdapat perkenalan yang tidak sengaja. Khafidz setiap ngaji malam di Pondok, ia selalu memaksakan diri untuk berangkat lebih awal dari pada teman-temannya. Ia selalu menyapu dan merapikan tempat mengaji kitab dengan niatan lillahita’ala dan mengharap berkah dari pengabdiannya secara samar-samar. Meskipun ia tidak bermodalkan fikiran yang cerdas dan pintar, ia hanya bermodalkan rajin, rendah hati dan yakin dalam setiap langkahnya. Suatu ketika, khafidz sedang menyapu wilayah putri, Khafidz merasa ada yang melirik dari kegelapan kaca hitam sebelah utara auditorium. Terdapat gerombolan kerudung memandanginya. Sekelebat ia langsung lari sembunyi diri dan meninggalkan kegiatan menyapunya. Justru dilangkah yang samar ini malah membalik perhatian santri putri tertuju pada Khafidz.
     Khafidz di pondok memiliki teman akrab bernama Ali yang akrab dipanggil dengan tuek, karena ia memiliki wajah yang keriput saat tertawa. Ali berkata kepada Khafidz, “fidz dicari Rini, katanya dia suka padamu”. Khafidz cuman menjawab dengan meremehkan, “Alah, dia kecil”. Ali menjawab dengan tertawa, “alah sama kecilnya kok ngeledek”. Khafidz berpegang teguh dengan keyakinannya bahwa ia masih kecil tidak boleh pacaran. Dengan iktikad yang kuat ia menahan diri selama tiga tahun dari semua gangguan.
     Setiap sore Khafidz sekolah di LBAI. Ia duduk paling depan dengan berharap dikenal. Hal ini dikarenakan ia yakin bahwa duduk didepan merupakan rahmat Allah sehingga pengetahuan insyaAllah akan dilimpahkan kepada semua murid khususnya paling depan lantaran malaikat-Nya. Memang seperti itu, secara geografis letak paling depan merupakan letak yang mana ia paling dapat mendapat paling banyak interaksi. Sehingga tidak menuntut kemungkinan depan merupakan wilayah paling strategis bagi para siswa untuk belajar. Melihat ke samping telihat kumpulan cewek pintar dan cerdas. Setiap kali ada pelajaran selalu ceweklah paling cepat dan pintar dalam menghafal maupun speech arabic and english. Dengan berlandaskan keyakinan bahwa ia harus mengalahkan dan menjadi paling baik dari setiap murid yang ada di kelas. Khafidz memaksakan diri untuk selalu berangkat paling awal, menghafal mufrodat, vocabulary dan percakapan setiap duduk di kelas. Meskipun di sisi lain teman-temannya ngobrol masalah pacar, curhat dan lain sebagainya.
     Sesuai dengan pepatah orang arab, “barangsiapa yang menanam maka ia akan menuai hasilnya”. Ia sering mendapatkan banyak hadiah tanpa diduga-duga dari lomba, rangking bahkan sampai mendapatkan gelar bintang pelajar LBAI tahun 2010.
     Tiga tahun kemudian Khafidz mulai merasa sudah umur untuk berdekatan dengan lawan jenis. Ia mungkin sudah terlupa dengan tujuan awal, nasehat-nasehat, dan pantangan orang yang menuntut ilmu. Khafidz mulai full-counter terhadap sindiran Rini. Ia sering sms-an, bercakap, canda dan lain sebagainya. Tak sengaja ia sudah menomerduakan ilmu. Biasanya malam ia belajar, malah ia sms-an. Sikap rajin dari Khafidz mulai tergerogoti oleh manisnya bersimpul tali. Akhirnya disangka Khafidz diakhir periode Perpisahan LBAI ia akan mendapatkan ranking satu. Ternyata namanya dipanggil duluan dinomer dua. Ia merasa tidak pantas, bukan sewajarnya ia mendapatkan nomer dua. Dia harus satu, apapun yang terjadi. Seiring waktu ia termenung ada apa dengannya. Ternyata, sikap menahan diri dari pantangan berpacaran ia masih belum lulus saat nyantri, sehingga buah dari menuntut ilmu  tidak muncul seperti perjuangan sedia kala.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment