Dia yang Menginspirasiku

Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim AL Khafidz

     Setiap orang pasti pernah tahu apa itu motivasi dan apa itu inspirasi. Terkadang juga sulit membedakan keduanya. Kalau dilihat sekilas seperti satu koin yang diputar kemudian ditutup dengan tangan. Kita hanya dapat menebak saja. Kecuali jika kita tahu makna perbedaan diantara keduanya maka kita bisa dianggap sebagai orang yang membuka tangan dan tahu apa isinya, kalau kita tidak bisa membedakannya maka kita juga termasuk hal sebaliknya. Meskipun mereka merupakan dua hal yang berbeda, tetapi masih memiliki hubungan yang saling berkaitan.
     Disini aku akan lebih menjelaskan perbedaan saja dan contoh, bukan masalah pengertian. Karena pengertian akan mudah didapatkan baik secara googling, buku pelajaran bimbingan konseling atau dari kepekaan pengetahuan tersendiri. Inspirasi ini didapatkan dari luar. Ia muncul dari faktor eksternal sedangkan motivaso lebih bersumber dari diri sendiri. Inspirasi bisa ditemukan dimana saja, baik dari buku favorit, film inspirasi, lingkungan, artis atau didapatkan dari orang-orang terdekat. Seperti halnya kamu terinspirasi dengan Nisa Sabyan. Kamu memang orang biasa yang mewarisi bakat-bakat terpendam. Setelah melihat dan mendengar Nisa Sabyan tenar dan muncul menjadi vokal gambus terkenal, membuatmu terdorong untuk selalu belajar dan tampil seakan setingkat dengan semangat dan bakat Nisa Sabyan. berbeda dengan motivasi, ia lebih bersumber dari diri sendiri. Tidak ada yang dapat membangkitkan diri mu sendiri kecuali dengan semangat dan gambaran yang terbetik dari dalam hati nuranimu.
     Motivasi akan cenderung membuatmu menjadi lebih bekerja keras dalam mengapai apa yang kamu inginkan. Jika motivasimu terbakar dalam hatimu, kamu akan lebih mengorbankan sekuat tenaga untuk melampaui batasan yang membuat pandanganmu lebih terbuka. Seperti kamu tidak mahir bahasa inggris, tetapi kamu mempunyai keinginan dan usaha yang keras untuk belajar, kamu akan lebih hebat dan berprestasi lebih daripada orang yang sudah meremehkan dan tidak terlalu memperhatikan hal yang kecil terkait dengan bahasa inggris. Sedangkan inspirasi akan membantumu dalam hal bekerja secara kreatif. Ia mungkin membantumu dalam memunculkan hal yang baru atau hasil karya yang lebih luar biasa daripada sebelumnya.
     Motivasi menjadi penyemangat terhadap tindakan yang kamu lakukan. Setelah kamu memiliki motivasi ini, kamu akan berusaha sebaik mungkin dalam hal proses mengapainya. Sedangkan inspirasi lebih cenderung menjadi penghubung antara dirimu dengan tindakan yang kamu lakukan. Apakah sesuai ataukah bertentangan. Masalah benar tidaknya hanya dirimu yang menilai.
     Inspirasi bersumber dari panggilan jiwa agar kamu melakukan sesuai dengan potensi yang kamu miliki sedangkan motivasi hanya sesuatu yang menurutmu menjadi suatu hal yang harus kamu lakukan dan harus ditembus karena motif yang sudah muncul di dalamnya.
     Dan yang terakhir ialah suatu pendapat yang saya kutip dari Natalie De Bruin. Ia mengatakan motivasi adalah pendorong, inspirasi adalah penarik. Maksudnya motivasi membuatmu terdorong untuk melakukan suatu hal, sedangkan inspirasi ialah tarikan agar kamu melakukan secara terus-menerus yang sesuai dengan dirimu sendiri.
     Selanjutnya saya akan menuliskan orang-orang yang menginspirasiku atau sesuatu yang membuat saya muncul rasa fans atau lebih dan apa yang membuatku tertarik untuk menggambarkan ia menjadi inspirasi dan pembakar motivasi dari dalam diri saya. Yang pertama ialah ibu saya sendiri Almh. Hj. Siti Aisyah, beliau salah satu orang yang membentuk kepribadianku dengan bakat, prestasi, akhlak dan postur tubuh. Beliau selalu mendidikku dengan baik. Setiap aku tersalahkan beliau menasehatiku dengan nasehat yang tentu sangat berbobot dengan dalil yang beliau dapatkan dari pengalaman dan pembelajaran yang beliau dapatkan. Beliau alumni MAPK ialah Madrasah Aliyah Program Khusus di Rejoso tiga tahun setelah beliau belajar di Tambakberas selama enam tahun. Beliau juga terkenal juara 1 Jatim dan pernah Juara 2 Nasional. Beliau juga pernah menjadi pusat perhatian terkait dengan para kakak kelasnya belajar kepadanya terkait bahasa arab. Maka dari itu beliau selalu dicari oleh orang-orang karena beliau cukup istimewa untuk dijadikan mantu. Yang aneh beliau menolak seluruh tawaran, malah memilih tawaran ayahnya yang telah memilih seseorang yang hanya menyindir secara tidak sengaja malah kejadian. Mungkin ini juga yang membuatku menjadi jual mahal, karena memang aku belum pantas menyandang nama pacaran sebagai ikatan, aku lebih suka persahabatan atau pertemanan saja sudah cukup.
     Bakat beliau selanjutnya ialah beliau terkenal dengan suara emas dan indah. Beliau sangat aktiv dalam pervokalan. Apapun ada undangan beliaulah yang dipanggil untuk menyayi khususnya tentang sholawat berbau dangdut. Setelah itu beliau juga qariah yang berlatih secara autodidak, MC andalan juga. Juga pernah jadi ketua fatayat teladan. Melihat bakat dan prestasi beliau menjadi tekanan terhadap motivasiku untuk menjadi penerus dari beliau. Sehingga aku lebih menyeru dalam hati, aku bukanlah khafidz bila tidak berprestasi, maka dari itu jadilah khafidz yang luar biasa. Hal ini berimbas dari doa dan ikhtiar sehingga mendapatkan prestasi yang cukup banyak didapatkan.
     Yang kedua ialah ayah saya beliau terkenal dengan gaya pemberani, preman, dan pembisnis hebat, namun perjuangan beliau dalam hal itu hanya mengatasnamakan H. Nur Sa’id ayahnya. Bila barang dagangan itu habis, beliau menguangkannya untuk mengembalikan barang dagangan yang dipinjam. Secara tidak sengaja yang menurun dan tidak sengaja turun kepada saya dalam segi historisitas rasa. Beliau pernah mencintai seseorang tetapi tidak menjadi jodoh, malah jodoh yang tersindir keterima dengan tulus. Yang turun kepada saya ialah ketika aku disukai tetapi aku tidak peka, setelah sekian lama aku tahan selama 3 tahun, aku mulai mengejar balik, buruknya ialah aku tertuduh menyukai orang lain. Hal ini cukup menyiksa saya karena aku hanya ingin menulis satu nama saja, meskipun tidak dengan jalan pacaran, hanya nama saja.
     Yang ketiga ialah Ayah Wazier, atau KH. Wazier Alie, Lc. Beliau adalah kiai ku di Asrama Sunan Ampel Putra. Yang ku sukai kedalaman ilmunya, membuatku menekan diri untuk menyukai ilmu klasik, agama, tafsir, bahasa arab dan bahasa inggris. Beliau pernah menyeru beberapa kali untuk aku mengabdi tetapi aku malu dengan kedangkalan ilmuku.
     Ke empat ialah Nailul Wirdah, alumni LBAI dan Asrama Nur Khadijah 3. Ia adalah kakak saya dalam arti ikatan yang dianggap seperti kakak. Ia cerewet tetapi ia selalu mempercayaiku sebagai orang hebat, adik luar biasa karena menyandang rekor muri tidak pernah turun prestasi dari ranking satu dan selalu juara pidato bahasa arab dan inggris. Ia pernah menang lomba debat bahasa arab se-Jombang, olimpiade bahasa arab se kab. Jombang dan lain sebagainya. Yang membuat saya tertarik semangatnya dalam ilmu dan bayangannya terhadap cita-cita yang luhur tidak didapatkan dengan jalur hibah, tetapi dengan jalur semangat dan ikhtiar diri. Ia lebih menghargai proses dari pada bangga menerima hasil.
     Ke lima ialah Ustadz Yunin, Lc. Beliau mengatakan bahwa aku khafidz adalah murid yang luar biasa. Bila khafidz ditaruh di STAIN Kediri ia mampu untuk menjadi dosen, hal itu membakarku untuk selalu menggeluti bahasa arab.
     Ke enam ialah orang yang sangat saya sukai dari segi masa lalu. Sebut saja Rini Yulia Maulidah atau yin. Ia pendek, kecil, berkulit coklat, mahir kaligrafi dan matematika yang membuatnya ia kuliah di jurusan arsitektur dan mendapatkan predikat kaligrafer Internasional kirim karya mewakili negara indonesia. Juga mendapatkan riwayat sanad kaligrafi riq’ah dari ustdaz Belaid al-Hamidi dari Aljazair. Hal ini membuat saya menyukai ialah karena ia pernah menyukaiku, karena belum saatnya menerima akhirnya aku menyukai di umur cukup matang, namun kehendak masih belum menyepakati, aku tertuduh suka orang lain karena digosipkan sama orang lain. Karena ia orang yang mungkin pertama kali sangat saya sukai, sehingga aku menyukai tipikal cewek yang pintar, pendek, jual mahal dan suka matematika. Tidak peduli ia berkulit warna coklat atau putih.
     Ke tujuh merupakan nama yang tidak asing lagi bagi kaum hawa Asrama Sunan Ampel Putri, Putra dan Nur Khadijah 3 ialah Saudari Gadies Malina Asy Syahbana. Ia anak dari Bapak Andik Mulyono. Hal yang kusuka darinya ialah ia sangat care dengan organisasi, meskipun terkenal tomboi tapi aku suka dengan sifatnya yang rajin dan pantang menyerah. Konon katanya dari Fuadah Khumairoh Al Khafidzoh ia suka shopping dipupuk sebagai hobinya. Katanya Fuadah hal yang tidak disuka adalah shopping yang menurutnya berlebihan. Aku juga pernah mendekat tapi yang kuinginkan sebagai sahabat saja, karena aku belum pernah punya sahabat khususnya cewek. Aku punya sahabat dari brebes namanya slamet, ia adalah santri induk putra, sekaligus suka perantau sebagai penjual sego goreng jakarta, penjaga warnet denanyar dan bengkel tidak tahu dia menempat dimana, slamet merupakan sahabat saya cowok tapi tidak saya masukan kepada nominasi teman atau sahabat yang menginspirasi, karena yang disebut dengan inspirasi ialah orang yang mematik dirimu seakan sebagai dirinya atau motivasi terdalammu tumbuh karena faktor luar. Aku kepergok dianggap suka G.M.A (Gadies Malina Asy Syahbana) karena aku iseng menuliskan namanya di papan tulis putih tepatnya di LBAI (Lembaga Bahasa Arab dan Inggris) Denanyar, Jombang. Disitu ada tulisan arab bertuliskan “غاديس” yang dieja menjadi Gadies dengan gaya tangan foto saya love dengan menggunakan jari. Al khasil karena saya lagi gelap hati dengan Rini Yulia Maulidah yang tertolak karena Gosip, aku hanya iseng menunjukkan rasa suka. Sebenarnya yang ku suka care dan rajinnya dalam segala hal. Pernah aku menjadi jembatan diantara dua jalan, atau lebih tepatnya aku digunakan untuk melancarkan hubungan asmara antara Daus dan Gadies, tetapi sebenarnya aku lebih menganggap ada hal yang aneh dari Gadies, ialah sorotan mata yang tak biasa aku melihatnya. Ia melihat dengan pandanga tajam ke arahku sejak kelas 1 Aliyah LBAI,mau ku tanyakan tapi aku acuhkan kata hati saya. Hal itu juga kesempatan saya sebagai jembatan untuk mengetahui bagaimana kebiasaan dan cara ia menanggapi jika ada orang cowok yang suka padanya. Alhasil, ia berkelok kepadaku, tapi aku tidak mengutarakan sebagai rasa cinta, memang suka tetapi aku lebih suka sindirian seperti apa yang dikatakan dipelajaran fiqh bab nikah, tepatnya bab kitbah, seorang perawan sebaiknya ditembak bukan dengan cinta secara blak-blakan, tetapi dengan sindiran, jika ia diam atau tersenyum berarti ia mengiayakan. Dalam perjalananya ia belajar di UNESA Jurusan Bahasa Inggris, dia sudah mahir dalam bidangnya, hal itu membuatku sakit, karena aku kalah start dalam keilmuan bahasa inggris. Aku memang dari dulu tidak suka disaingi, ingin selalu di depan tetapi tidak sombong dan selalu memupuk syukur dan kebanggan kepada orang tua bahwa aku memang benar-benar khafidz yang engkau inginkan. Ia sekarang sudah lulus dan mau mengabdi kepada Ayah Wazier, aku sebenarnya ditarik tetapi malu untuk menunjukkan diri kepada beliau, karena saya belum membawa ilmu bahasa arab, inggris atau ilmu tentang kedalaman belajar tentang kitab. Semoga tulisan pendek ini menghidupiku sebagai khafidz dan mendapatkan seorang yang memang benar-benar dilukiskan oleh Allah kepadaku tentunya aku tidak mau melukis gambar yang terkena noda dimasa lalu.
      Ke delapan ialah Fahruddin, adik dari M. Siddik yang sekarang tahfidzul Quran. Adik saya yang saya anggap sebagai adik sebenarnya ialah fahruddin, ia seorang abdi ndalem ayah laki-laki yang memiliki multi talenta. Ia bisa vokal, bisa ngepel, nyapu, ngajar, mahir, dan tentunya ia memiliki tubuh yang ideal. Ialah satu-satunya yang mematik motivasiku menjadi orang yang harus menjadi multi talenta, sehingga aku dahulu menekuni bahasa arab dan inggris, mulai berkelok dan menambah pengalaman terkait teknologi, agama, kitab, pervokalan, banjari, gambus, dan lain sebagainya.
     Ke sembilan ialah Mustamsikin, guru saya sharf. Beliau menurut saya dahulu adalah teman saya, karena gaya bicara dan guyonan dia hanya aku yang paham, orang yang paling agresif dalam hal belajar adalah aku kang khafidz (panggilan khas dari orang tulungagung). Aku menganggap beliau adalah temanku karena beliau adalah teman se kuliah, sejurusan beda angkatan. Kita sama-sama jurusan IAT (Ilmu al-Qur’an dan Tafsir). Hal yang membuatku terinspirasi adalah gayanya yang lugas dan beliau adalah sosok seorang yang mudah akrab, tampil biasa namun membawa otak berat ilmu. Aku lebih suka memberikan beliau gelar “Tua Ilmunya.” terkadang aku juga membayangkan bahwa diriku akan mewarisi tekad dan bakat yang beliau capai. Meskipun dari jumlah prestasi tidak sebanyak apa yang diberikan Allah kepadanya.
     Ke sepuluh adalah Siti Naila Zakiyah, seorang vokal cantik yang saya pinjam untuk ikut lomba banjari se karisedenan. Sebenarnya bukan saya yang boking, tetapi Dewi Nasru jurusan Tasawuf Psikoterapi angkatan 2015. se-angkatan dengan saya. Aku baru mulai muncul suka dengan suaranya saat saya berulangkali me-replay rekaman suaranya sehabis lomba banjari se-karisedenan kediri. Lama-kelamaan aku menjadi suka terhadap suaranya. Tiba-tiba saya khilaf mengirim salam berulang kali lewat teman atau kenalan saya barusan kepada Luthfia Khusnia Sari, karena namanya fans berat apa daya kalau suka berlebihan. Dia berasal dari Diwek, kab. Jombang. Pernah saya mencoba melangkah terlalu dekat. Karena saya menyandang bukan orang kaya sehingga saya mundur kembali, akhirnya diambil oleh mas Fadlan kemudian ia menamakan IG atau akun Instagramnya sebagai Zakiyahfadhlan.
     Ke sebelas yang tertulis ialah M. Alfatih Sururi, ia mendambakan diri sebagai orang yang ahli hipnosys. Sehingga ia mengatakan diri sebagai M. Alfatih Sururi, p.hd. Meskipun kayaknya terlihat sok keren dan selalu dalam presentasi menggunakan kata-kata yang bisa dianggap seperti Mario Teguh. Juga memang dalam hpnya android kepergok saya ada video 18+, atau tak layak untuk ditulis sebagai artikel bebas ini. Ia membuatku terinspirasi ialah ia menghafalkan al-Qur’an hanya delapan bulan di Hamlaatul Qur’an Jombang. Selama shalat lima waktu cara mendidik dan menghafalkan dengan cara membaca satu juz penuh disetiap senggang shalat lima waktu. Ia tidak boleh memegang barang lelahan atau handphone, tv, laptop, game dan sejenisnya.
     Ke dua belas ialah mbak reva, vokalis utama Nabrotuzzein, Sidoarjo. Ia sangat centil, endel, kelihatannya banyak tingkah kalau dilihat dikasat mata video youtubenya. Yang ku fans dari dia ialah endelnya dan suaranya yang indah. Pernah aku melihat status Luthfia Khusnia Sari, seorang cewek yang kujadikan jembatan titip salam kepada orang yang sangat saya fans vokalis bernama S.N.Z (Siti Naila Zakiyah) dari Diwek. Ia pernah buat status vide bahwasanya cewek sesunggunya kecantikannya bukan dari wajah, tetapi sifat ke kanakannya, centil, endel tersebut. Sehingga lama-kelamaan merubah persepsi saya bahwa centilnya cewek itu wajar, dan membuat ia cantik. Seperti yang dicontohkan Rasulullah kasih sayang kepada Aisyah yang masih suka godain dan bermain begitu juga ayah dan ibu saya yang masih suka bermain gombal-gombalan.
     Ke tiga belas ialah H. Mukmin Mubarrok seorang Qori’ internasional dan Syamsuri Firdaus, aku sering mengitip gaya beliau qiraah dan semoga memberikan berkah kepada ilmu yang beliau share kepada saya tanpa mengurangi niat lillahita’ala, meskipun ada amplop yang terselip saya anggap rasa syukur kepada Allah SWT.
     Ke empat belas adalah Ahmad Makruf, ia orang yang cerdik. Dalam kesehariannya ia menekuni masalah entertaiment dan bisnis. Hal seperti demikian merupakan hal yang membuatku ingin menjadi sepertinya. Ia adalah penggerak DKC-CBP, IPNU-IPPNU, AbdA atau organisasi yang mengurusi anak yatim-piatu, Pramuka, MC dan lain-lain terkait dengan entertaiment dan relasi. Dia juga bergerak dalam hal bisnis seperti percetakan, piala, vandel, mug dan lain sebagainya.
Dan yang terakhir ialah Harisma Qumil Laila, ia adalah sahabat saya yang sama-sama penggiat bahasa arab. Bedanya saya terlalu fokus belajar dalam segi tekstualisasi buku paket bahasa arab, sedangkan ia lebih kepada bahasa arab percapakan modern. Ia jurusan IAT, UNIDA, Gontor. Dahulu ia jurusan Filsafat Agama, karena mengenal diriku sehingga ia merubah niat sama dengan saya. Hikmah yang saya ambil darinya ialah ia sering praktik bahasa arab melebihi bakat minim saya, meskipun prestasi yang ia miliki tidak terlalu banyak. Ia lebih menganggap saya mahir, soalnya ia tahu bahwa saya prestasi, ia menganggap aku selalu nge chat dia berbobot hanya ingin tahu ilmu, ilmu dan ilmu. Ia sangat percaya bahwa aku adalah orang yang luar biasa, sehingga aku hanya bisa mengamini dan bekerja keras demi tercapai himmah ku, dan amanah yang kupegang dari Almarhuma Hj. SIti Aisyah umi saya sampai jenjang Strata tiga.
Melihat ada Ayah, Ibu, Guru, Calon Pacar, Calon Sahabat, Sahabat, Teman, sampai seorang yang saya fans seakan membuatku menjadi lebih semangat. Karena memang dari jalur ke kayaan saya bukan orang kaya. Bisa dianggap ayah saya faqir setelah ummi ku tersayang meninggal dunia, tidak ada semangat karena separuh jiwa telah pergi. Aku memang dari dahulu sudah merancang masa depan demikian. Seperti; lulus Aliyah aku ikut les bahasa arab dua bulan, mengabdi setahun, mahir kitab dan kemudian kuliah, kuliah dan kuliah, kembali lagi dalam usia muda untuk mengabdi kembali setelah itu terserah arah angin yang membawa salju. Karena aku memang menolak angin kering yang merusak kulit.
     Lukisan yang ku buat kedua ialah aku kuliah sampai semester tiga, pergi ke kairo mesir, dapat title “Lc” atau laisi, kemudian pulang ke indonesia belajar S2, dan melanjutkan strata tiga di luarn negeri kemudian pulang dan mengabdi. Alhasil masih belum sesuai rel yang aku bayangkan karena aku kehilangan separuh inspirator ummi ku dan penaruh istikharah buatku.
     Lukisan ketiga ialah aku setelah selesai skripsi pada bulan ini, aku menghabiskan waktuku sebulan untuk fokus belajar kitab Diniyah se Madrasah Tarbiatul Ulum, Pondok Pesantren Panggung. Kemudian setelah aku habiskan semua ilmu disana aku merantau untuk menghafal al-Qur’an di Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an, kemudian aku kuliah lagi dan kuliah demi menyelami nikmatnya keilmuan yang dicita-citakan umi saya kemudian memberangkatkan haji ber empat mungkin yang satu ini ialah jodoh yang dituliskan Allah kepada keluarga kami saat sejahtera.
     Namun apa daya itu masih lukisan belum terjual, aku hanya bisa membakar semangat, menambah bakat dan skill dengan tubuh kecilku, semoga aku bisa menjadi khafidz yang diidam-idamkan lebih keren daripada dahulu. Sekian tulisan pendek ini, terimakasih sudah melanjutkan membaca sampai habis, Assalamualaikum (June 4, 2019, Pukul 23: 43 Malam, Spesial Hari Raya Idul Fitri).

Previous
Next Post »
Thanks for your comment