Mau Wisuda Kok Ndak Punya Buku



“Mau Wisuda Kok Ndak Punya Buku”

            Tahukah antum apa maqalah tentang buku? “Buku adalah jendela dunia.” Ini adalah sebuah kiasan yang menunjukkan isyarat bahwa buku itu penting untuk dipelajari. Dengan buku kita tahu apa itu pengetahuan, baik pengetahuan tentang agamis maupun ilmu-ilmu umum. Kegunaan buku sangatlah banyak, ada yang berkata buku membuat kita pintar, kaya ilmu, kaya harta, kaya bicara, menunjukkan jalan lurus dan lain sebagainya.
            Mengenai pentingnya buku, hal ini telah banyak disinggung dalam lingkup islam. Diantaranya adalah “Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim”(al-Hadis). Disini hukum islam kedua menekankan bahwa ilmu itu wajib bagi semua kaum khususnya dalam islam dalam konteks ini. Tanpa ilmu islam akan menjadi seperti tumbuhan yang layu, tak berguna dan mudah dihancurkan. Maka dari itu Allah menuntut hamba-Nya untuk meraih ilmu yang banyak khususnya ilmu agama sebagai pondasi dasar islam dan ilmu selain agama sebagai pendukung dalam perkembangan, profetis dan kemajuan islam. Sebagai umat Nabi, kita tak boleh hanya belajar ilmu agama saja tapi juga keilmuan yang lainnya, sebagai contoh ketika nabi melakukan perang, disitu Rasul menyusun taktik, kemudian ada salah satu sahabat yang menunjukkan sistem formasi yang strategis dalam berperang. Setelah itu Rasul berkata kepadanya “kamu lebih mengetahui dengan urusan dunia.”
Selanjutnya, “Barangsiapa yang ingin kehidupan dunia maka (raihlah)dengan ilmu, barangsiapa yang ingin akhirat maka (raihlah) dengan ilmu, dan barangsiapa ingin keduanya maka maka (raihlah) dengan ilmu”(Maqalah). Biarpun ini merupakan kata-kata oleh Syaikh ahlu syair namun kata-kata ini dipetik dari ibrah kehidupan nyata di alam ini. Kita harus memiliki keilmuan kuat dalam menjalani hidup. Hidup hanya sekali jangan disia-siakan dengan alat-alat lelahan, seperti hp untuk sosmed hoax, main game, laptop untuk main game, lihat film dan lain sebagainya yang membuat kalian melakukan sesuatu yang tak berguna dan membuang-buang waktu. Maqalah ini menekankan, jika kita ingin kehidupan bermakna sesuai dengan tujuan maka wajib meraihnya dengan media ilmu. Misalnya, jika kalian sekarang ber-profesi menjadi ahli agama, janganlah melihat sebelah mata bahwa itu merupakan profesi utama dan satu-satunya profesi. Iringilah dengan profesi lain, biar bila suatu saat ada kendala maka ada jalan alternatif lainnya.
Di dunia perkuliahan tak akan lepas dengan pustaka yang berbentuk buku. Setiap mahasiswa pasti merasakan membuat makalah, dalam makalah tersebut berisikan dua buku bahkan lebih sebagai rujukan yang sesuai denga tema yang diberikan oleh dosen. Buku, dosen, dan kawan-kawan mahasiswa berposisi sebagai sumber pengetahuan. 
Setelah sekian lama, mahasiswa akan merasakan wisuda atau say good bye kepada kampusnya. Disitu mulai muncul benih-benih membara dalam belajar, memperdalam bacaan, mengumpulkan kata-kata dan sub-sub sebagai pustaka dalam menyelesaikan studinya. “Setiap malam, senggang waktu ia sisihkan waktu untuk berfikir dan mengetik. Tak perduli dengan godaan sekitar, kadang berkhalwat dari keramaian menjadi pelipur lara. Kadang tergoda namun ada sedih dihati. Di awal, andai tak pernah baca, suramlah bayangan garis besar. Bingung, suram, gesah dan gelisah merangkulnya. Di tengah, bila garisnya diterima disisinya, namun fikirpun bingung apa dan bagaimana alurku selanjutnya?, jalan seperti apa yang kan ku tempuh? Setelah semua telah usai bahagialah di dalam. Senang dan rasa syukur terucap. Namun perjuangan tak se-singkat itu, Jalan masih relatif panjang tuk ditempuh. Oleh karena itu, hai para mahasiswa terus berjuang dan berkarya demi masa depan yang gemilang”(Ujar Kang Khafidz). Memang menjadi mahasiswa yang paham dalam materi akademik kuliah maupun non-akademik itu baik, tetapi jangan lupakan sisihkan uang untuk memborong buku. “Sedikit demi-sedikit lama-lama menjadi bukit”(Maqalah), dalam hal mengumpulkan buku tak harus menunggu uang banyak tapi sedikit-sedikit seiring waktu, misalnya satu bulan bulan sekali atau dua bulan sekali. Memiliki buku yang banyak membuat kita bahagia dan kaya akan keilmuan. Beli pulsa aja mampu, seminggu tujuh ribu, satu bulan dua puluh delapan ribu, masa beli buku yang senilai atau lebih mahal sedikit merasa berat.
Jika dilihat dalam literasi dosen ataupun kiyai setempat, nyaris tidak ada yang tak memiliki banyak buku, pasti mereka memborong buku, membuatkan almari khusus biar terlihat menarik. Memang dari segi tampilan elok, tapi paling tidak jika memiliki tidak membaca sekarang, ya esok juga akan membacanya. Jangan andalkan kekuatan aqli untuk menyerap keilmuan saja, goreskan ilmu kalian dalam tulisan atau dengan membeli buku, sehingga ilmu kalian tidak mudah hilang. Islam juga menyinggung akan potensi otak manusia, tidak ada manusia yang tak pernah khilaf dan lupa, “Manusia adalah tempat salah dan lupa.”(al-Hadits). Jadi jadi seorang mahasiswa harus bahkan wajib memiliki buku, sehingga menjadi mahasiswa yang progressif, kuat dan otentik yang sesuai dengan dasar literasi yang dimiliki (tidak hanya meraba-raba). 
           

Khaf/29-03-2017


Previous
Next Post »
Thanks for your comment