Gelisah Dibalik Amalan

"Gelisah Di Balik Amalan" 
     
        Amalan, istilah ini tak asing di pandang kita. Secara tekstualis amalan adalah sesuatu yang dikerjakan atau dilakukan. Namun amalan yang dimaksud penulis adalah amalan yang terkait dalam ruang lingkup islam, khususnya dalam lingkup menyantri. Amalan adalah suatu dzikir yang mana akan memberi kekuatan khusus baik bersifat kebatinan maupun terapan. Amalan  yang aksiologinya menambah kekuatan batin ialah membuka indra dalam dalam mencapai hal yang bersifat ghoib sesuai batasan-batasannya, memperkuat iman, menambah jaminan akan masuk syurga dan lain-lain. Amalan kebatinan ini bersifat memberi efek pada batin, baik membekal keimanan, menambah rasa syukur, tersingkapnya hal yang ghoib baik dari segi waktu dan wujudnya. Selanjutnnya adalah amalan bersifat terapan, yakni amalan-amalan yang memberikan efek lahiriyah menjadi unggul dalam hal kepuasan lahiriyah. Seperti halnya amalan maulayashol dibaca 10x sehabis subuh dan maghrib secara istiqomah akan diberi oleh Sang Maha Pencipta mudah dalam hal haji atau rizeki haji datang secara tiba-tiba, ada pula yang berbentuk sejenis azimat baik berupa uang atau lembaran bertuliskan asma’ Allah, yang mana akan memberikan efek selamat dari pencopetan, kebal, kuat dan lain-lain. Amalan tang telah disebutkan diatas adalah amalan dari kalangan santri. Hal ini tak jauh beda dengan abangan. Namun, dari kalangan kaum santri mengatakan gaya abangan sangatlah jauh kebenarannya dari medan keagamaan yang ada padanya, karena dari hal tujuannya adalah mendapatkan keistimewaan dari sesuatu yang dianggap sakral lantaran meminta kepada roh halus, atau nenek moyang. Padahal dari segi lahiriyah sama seperti istilah yang dipakai oleh orang arab ‘’Qodam”. Karena didalam islam telah dijelaskan “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepadamu kami berlindung” (Q.S Al-Fatihah 06), “Maka menyembahlah Tuhan (Pemilik) rumah ini” (Q.S Al-Quraisy 03:30), dari dua ayat ini membuktikan secara tersirat bahwa abangan dilarang karena seiring menyekutukan Allah. Kemudian muncul tokoh baru yang termasuk kalangan liberal islam bernama Dr. Ahmad Zainul Hamdi(Pemateri Institut Transvaluasi IAIN Tulungagung 25 April 2015), dia adalah keturunan dari kiyai, ayahnya kiyai dan juga kakeknya. Kemungkinan menurut penulis ini dia bangkit dari keterbatasan kekangan syariat islam fiqh akan tradisi jawa masa kecilnya. Sewaktu masih dini, dia dilarang oleh ayahnya untuk melihat gamelan, tarian yang kiranya terbuka aurat perempuan. Padahal itu merupakan adat jawa masa awal sebelum islam datang. Dalam masalah akidah, dia memiliki keyakinan tersendiri karena posisi menimba ilmunya. Dia kuliah di australia, dan amerika pada strata s-1 dan s-2 nya. Sehingga pandangannya sejalan dengan orientalis peneliti luar akan dinamika islam dan jawa.
      Dalam memahami islam di jawa, dia tidak memihak paham dari salah satu penelitian oleh orientalis. Menurut Clifford Geertz, dalam thesisnya tentang ABANGAN, SANTRI, PRIYAYI DALAM MASYARAKAT JAWA, bahwa sekitar 90% islam di jawa (revisi bukan jawa tapi kota mojokuto) terdapat tiga golongan islam, yakni: Abangan, Santri dan Priyayi. Dalam pulau jawa, tiga strata ini dalam posisi agamanya berbeda. Pada acara Institut Transvaluasi yang diadakan oleh Mahasiswa Fakultas Filsafat Agama, dia menekankan bahwa islam jawa yang asli adalah seperti tradisi abangan. Abangan bercirikan suka ritual slametan, percaya dengan kekuatan makhluk halus, pekerjaan sebagai tani. Abangan bertuhan pada leluhur, yang mana kata Dr. Ahmad Zainul Hamdi kaum abangan memiliki sanad kepercayaannya sambung pada leluhur, karena diwariskan kepercayaan turun-temurun sampai dasarnya. Disini Dr. Ahmad Zainul Hamdi menekankan bahwa islam di Jawa harus seperti abangan, agar budaya asli jawa tidak punah seutuhnya, akan tetapi dari kaum santri menolak akan faham percaya kepada leluhur, karena menurut Cliford Geertz kefahaman dalam ber-Teologi kepada Tuhan mereka salah. Abangan dari berbagai sisi selalu rendah, dan mungkin juga sesat kata Dr. Ahmad Zainul Hamdi dari pandangan kaum santri pada umumnya. Kaum santri identik pekerjaan adalah pasar, tani dan juga pemerintah birokrasi dalam segala posisinya. Dalam hal proses inisiasi yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk mengetahui identivikasi santri tidak ada keanggotaan yang formal. Ketiga adalah priyayi menurut Dr. Geertz kaum yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsur birokrasi. Kaum yang elite yang sah yang memanfestasikan satu tradisi khas beragama adalah varian priyayi. Priyayi dibagi menjadi 3, diantaranya adalah : priyayi santri, priyayi abangan dan priyayi yang menyembah leluhur. Kata Dr. Ahmad Zainul Hamdi adalah Islam abangan diproduksi dengan istilah tak beradab, unreligious, gelap, sesat, berhubungan dengan roh-roh, yang dalam sejarah abangan tak pernah dituliskan yang baik-baik. Istilah abangan menurutnya digunakan oleh kaum santri sebagai simbol pencekam sesuatu  yang sesat dan harus dimusnahkan. Dalam hal pandangan keyakinan tentang islam, Dr. Ahmad Zainul Hamdi berbeda dengan orang islam sekitarnya. “Agama samawi dan agama ardhiyyah itu tidak ada, itu semua bohong....!!!! coba lihat semua keriteria agama yang benar adalah pandangan agama itu sendiri, itu pula agama samawi, yakni islam dan kristen, sedangkan agama ardhiyyah agama yang dibuat oleh manusia sehingga dianggap sesat. Coba bayangkan para peserta institut trasvaluasi, syarat agama yang benar harus ada nabi, islam dan kristen ada, bukan karangan manusia, ......., itu semua bohong, rekayasa. Hebatnya lagi orang NU, bahkan pertanyaan malaikat munkar nakir sudah bocor” kata Dr. Ahmad Zainul Hamdi. Disesi diskusi yang sama dia berkata “konsep syurga sudah bisa dipetakan, dalam al-Quran bahwa nanti kita disyurga akan diberi kenikmatan yang luar biasa, didalamnya ada air susu dan madu yang mengalir, kita akan disuguhi bidadari-bidadari yang sungguh cantik, bila kita ingin buah yang manis akan mentiung sendiri. Semuanya itu sudah bisa dibayangkan, negara Arab bukan negeri syurga disana tandus, gersang dan tak ada itu semua, namun syurga yang sebenarnya ada di indonesi, semua gambaran syurga tersebut ada di Indonesia”.
Masalah kesuksesan, penulis mendapatkan hipotesis yang menurutnya sedikit menyakitkan kala didengar. Ia mendapatkan dari salah satu santri di pondok ke-2 yang ditapakinya.
 “santri kalau lulus pondok ngak sukses, berarti arekke kurang Nariyahan” kata santri.
“aku tidak merasa di ijazahi, aku yang merasa di ijazahi oleh kiyai saya di pondok saya dulu di jombang” jawab penulis.
“we, santri kene tah kono, ndang balik nang pondokmu kono..”kata santri.
“nek masalah amalan berarti harus ada ijazah, lah kiyai saya disana dulu memberi ijazah tapi bebas masalah pengamalan, boleh diamalkan boleh tidak, kalau sanggup diamalkan secara istiqomah, tapi nek modele amalan koyok ngunu yoh medeni, jenenge santri yoh manut gurune, takdhim yawes nek ngunu aku tak nerimo ijazahan tahun ngarep (dalam hati ragu tapi sedikit tidak menerima ijazah yang beresiko, yang menjatuhkan pengamalnya).” Ujar penulis.
Dari obrolan yang telah berlangsung penulis ingin menulis ini dikarenakan amalan memberi efek buruk bila menerima ijazah dengan ikrar Qobiltu. Dalam obrolan yang lain, penulis bercakap dengan Muhammad Kevin, ia salah satu mahasiswa IAIN Tulungagung. Ia bercerita tentang Nariyahan, suatu ketika di daerah tempat tinggalnya blitar ada yang berujar dengan hipotesis, “kamu harus nariyahan, kalau tidak nariyahan dosamu besar” kata tetangganya.
Ia hanya menjawab, “yaudah biarkan, seng penting aku sudah menjalankan syariat islam, di islam tidak ada wajib nariyahan, trus aku harus ikut? Iku urusanku sendiri. Tapi malah yang menakut-nakuti malah meninggalkan sekian berubahnya zaman.”
Mungkin dalam hal kepercayaan, penulis lebih memilih amalan yang tidak ada efek yang beresiko tinggi yang penting berusaha istiqomah. Masalah dalam islam ada atau tidak yang penting penulis tetap takdhim pada ustadz yang dihormatinya.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment