Sambangan Di Angkara Santri

"Sambangan Di Angkara Santri"

Sobat, kita tahu kalau ada orang yang lama atau bahkan sebentar di tinggal kalau dia kembali disebut menjenguk, mengunjungi atau Sambang. . Menjenguk identik dengan orang sakit, dimana jika dia sakit akan dikunjungi dan dijenguk oleh orang, baik saudara, teman, dan lain-lain. . Mengunjungi. Ialah pergi ketempat untuk hanya sebagai hiburan, silarurrahmi, atau hanya menutup rasa kangen. Mengunjungi banyak di pakai dalam bahasa Inggris. Seperti "saya mengunjungi nenek saya di Jakarta, saya mengunjungi wisata binatang dan lain sebagainnya. . Nah, sobatku sekalian. Saya ingin menulis tentang "SAMBANG DI ANGKARA SANTRI".
Sambang atau nyambangi sering dipakai oleh santri yang lama tak jumpa dengan OrangTua (khususnya), saudara atau sanak famili lainnya, yang mana orang tersebut kadang mbawa jajan, uang, ataupun lainnya dengan tujuan diberikan kepada santri lama tak jumpa. Santri ketika Sambang pikiran yang termaktub pada bayangan kawan-kawannya adalah " Ndi Jajane???". Istilah ini selalu muncul ketika disambangi. Sewaktu jajan akan dibagikan serentak bergerumul untuk menyerbu jajan tersebut. Bagai hayna tak pernah makan. Ada pula rumor, bagi yang punya jajan disembunyikan awas hilang. Hal ini dilatarbelakangi oleh kehidupan santri dengan kata "kita sama-sama santri, kita sama-sama jauh dari rumah, apapun kita merasakan sama, nasib sama, joinan sama".
Di tempat yang lain ada yang tertib masalah jajan Sambang. Saat ada jajan semuanya berbaris mengantri jajan, jadi semuanya dapat jajan semua dengan adil. . Itu semua berkaitan dengan Sambang dari luar. Lantas, kalau nyambangi pondok lawan jenis gimana?. Dahulu nyambangi santri putri adalah sebuah kemaluan yang besar. Ketemu saja langsung lari, karena dahulu budaya malu lawan jenis sangat lah ditekankan beriringan dengan hormat takdhim kepada kyai yang sungguh dahsyat. Namun sekarang zaman bebas. Zaman dimana sudah TIDAK ADA KEMALUAN. Semakin bergesernya santri tradisional(salafi) menuju pengaruh modern. Dahulu surat-menyurat sebagai wadah efektif bagi santri yang jatuh cintrong pada lain jenisnya. Mengirim satu surat memungkinkan satu hari dan hari kemudian bahkan beberapa hari kemudian baru dibales. Kalau zaman sekarang sudah kenal istilah SMS, FB, Twitter. Jika santri pergi ke warnet sudah dengan mudah chatting dengan kawan khususnya lawan jenis. Awalnya berkenalan kemudian berkembang menjadi ketemuan dengan perantara media sosial tersebut. Sebuah pleno yang ditancapkan pada santri adalah :kuat melek, Moco, tirakat, Poso, nahan marang godaan wadon. Perempuan adalah cobaan bagi santri, awal niat menuntut ilmu kemudian kalau pdkt berlandas maksiat secara samar akan mempengaruhi prosesi menuju label santri pada hakikatnya. Seperti inilah Sambang yang salah. Apabila Kyai atau ustadz tersebut masih mengandalkan gaya tradisi masa lalu, "apabila ketemuan, pacaran rabeknk wae wes", hal ini bukan bertujuan menyiksa keberadaan santri yang melanggar, tapi menjaga agar tidak maksiat yakni langsung di akadkan. Sekarang kebijakan seperti ini telah bergeser menjadi pacaran, sowankan boyong. Hal ini didasari oleh dia santri terlalu dini, kalau dinikahkan jelas menolak, jadi dia boyong keluar dari pondok dan beralih ke pondok lain ataukah ke pendidikan umum yang lebih bebas. Jadi ikatan anti maksiat telah bergeser pula akibat gaya lingkup sosial yang berubah.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment