Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
(sebuah tulisan ngawur untuk mengikat kenangan yang tak berguna)
Diketik Tgl 19-02-2018
Di IAIN Tulungagung
IAIN Tulungagung merupakan tempat belajar tingkat lanjut setelah menempuh MAN Denanyar atau bisa disebut dengan MAN 4 Jombang. Sebelum kuliah di sana, khafidz merasa canggung antara meneruskan konsep berfikir dan alur hidup KH. Ahmad Wazier Ali, Lc atau dengan metode linier Sang Ibu Hj. Siti Aisyah. Ayah Wazier menghimbau khafidz untuk mengabdi selama paling tidak 1 tahun atau dua tahun dengan jaminan setiap hari setoran baca kitab. “Sampean Mondoko nang kene setahun engkas, nek gelem ngabdi setahun, tak dadekno wong temenan!”, Himbau Beliau. Sementara Ibu berhimbau, “Sampean sekarang sudah terdaftar di IAIN Tulungagung, lah mantapkan niat sampean. Nek temenan terusno kuliahmu sampei mari, nek mboten temenan ndang rabi gpp. Lah nek temanan kuliah, mari S1 kudu S2, Mari ngunu S3, Pokok Kuliah, Kuliah, dan Kuliah!. Urusan cewek nek sampean pinter, engko teko dewe”.
Kedua himbauan tersebut membingungkan khafidz. Mana yang harus dipilih, Ayah Wazier atau Ibu Kandung Sendiri. Akhirnya khafidz mencoba untuk mitung pikiran (red. Bhs Jawa, melobi alur berfikir) terhadap ibu. “Mi, niki dos pundi nek aku kuliah ee libur riyen setahun, kulo ngabdi ke Ayah Wazier, lah sebelum mengabdi kulo tumut pondok gedek sebulan, setahun kemudian kulo kuliah”. tanggapan dari ibu hanya dengan ekspresi wajah khawatir. Karena dari segi perekonomian terselubung ibu tak memiliki uang cukup tapi tidak mau mengungkapkan ketidaksanggupan sang ibu.
“Sampean sudah gede sudah berfikir matang, apalagi sampean sakniki wes mahasiswa wes iso berfikir matang, pokoknya usulanku, nek sampean sudah kuliah, sudah ketrima di ptkin IAIN Tulungagung, sampean kudu 100% andil, kuliah kuliah dan kuliah.” ujar ibu.
Hari demi hari, malam menjemput berulang kali. Tiada detik tanpa fikiran galau dan sedih berfikir antara dua jalan yang sulit untuk ditapaki. Disenggang waktu tidak ada kegiatan ia kefikiran mana yang harus dipilih. Khafidz merasa curhat dengan sahabat karib dapat mengobati kebingungannya. Sebut saja dia Gadies. Ia merupakan sahabat sekaligus disuka karena kepekaan, ketrengginasan (red. Bhs Jawa, Rajin) terhadap sekitar sekaligus peka terhadap sindiran. Meskipun dari alur asmara gadies tidaklah jelas milik siapa, pernah dimiliki, dan disukai sekitar. Hal seperti itu tidak dihiraukan khafidz.
Khafidz merasa kebingungan memilih kebijakan pada saat kelas 3 Aliyah Denanyar Jombang saat mondok di Sunan Ampel Putra yang diasuh oleh KH. Imam Haramain, MS.I tahun 2015. khafidz dan kawan-kawan sejawat menyembunyikan handphone yang biasanya bisa disebut dengan ganjel lawang, gemplang kirik, dan masih banyak lagi. Teknologi canggih pada masa itu adalah handphone samsung champ dan samsung young generasi pertama.
Masa-masa kelas 3 merupakan masa berakhirnya menginjakkan kaki atau bisa disebut dengan masa kebebasan dari aturan. Hampir 70% aturan tidak berlaku khususnya penyelundupan HP. Hukuman bagi penyelundupan HP adalah dibanting pengurus, dibanting sendiri, disita, dijual harga murah. Namun bagi anak kelas tiga hanya diabaikan atau dirampas saja. Mengenai berlakunya atau tidak merupakan adat bagi kelas tiga secara tersirat.
Melihat peluang seperti itu, khafidz memberanikan diri untuk menyelundupkan handphone meskipun dalam hati kecilnya tidak ingin membawa hp 80%. Ia memanfaatkan kesempatan itu dengan sms’an dan telponan dengan teman sejawat. Khususnya pondok putri atau anak kampung yang putri. Iya atau diniscayakan, pasti sebagian besar kesinambungan hubungan sms’an atau telepon hal yang dibicarakan lebih lama dari pada teman sejenis.
Akhirnya ia melontarkan curhatnya kepada Gadies pada malam hari yang gelap dan hening. Saat itu ia sedang berjalan santai dengan temannya sesama santri. Tak sengaja ia mengatakan isi hatinya dengan kata yang disebut gombal tapi dengan maksud apa adanya. Ia mengatakan “kau bagaikan rembulan yang bersinar terang dimalam hari, kau paling sempurna dihadapanku”. Karena masih disebut sahabat jadi ia masih belum tahu kebenarannya.
Tak lama kemudian status khafidz kepergok oleh Gadies. Ia menuliskan “memang sekarang aku menjadi jembatan antara kalian, tapi nanti aku akan menjadi pengganti darimu”. Akhirnya Gadies komentar “iya”. Khafidz pun memasang topeng sok tak tahu.
Jika ditanya apa yang disuka khafidz kepada rembulannya. Ia menyukai karena care-nya kepada organisasi, meskipun khafidz tak mahir beroganisasi ia masih tetap berjalan melaksanakan kewajiban bersama sekretarisnya. Sifat rajin dan istiqamah yang melekat sungguh membuatnya takjub. Memang ia tidak se-greget ilmin dalam ilmu. Akan tetapi ia memiliki kelebihan care-nya membuat terpleset.
Tiap malam saling mengkode dibalik jendela. Tentunya kode yang hasanah. Ia mengajak ngaji bersama di hadapan kiyai, bersama dengan teman-teman santri putra dan putri. Sebelum mengaji ia memberitahu khafidz dahulu baik dibalik jendela atau dengan sms. Bagi santri hubungan seperti itu seperti syurga. Karena memang jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Berbeda dengan santri yang lain, mereka yang melewati batas hanya mengajak ketemuan dan nongkrong bareng, sepulang dari ketemuan pasti ketahuan dan terkena takzir tingkatan sedang. (udah)
ConversionConversion EmoticonEmoticon