Kenang Awal Kuliahku

     Tulungagung, Pondok Pesantren Panggung tempat bermukim sementara sebagai pencetak pribadi sebelum bermasyarakat. Sebut saja Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz. Dia belajar di pondok nyambi kuliah di IAIN Tulungagung. Dia belajar disana karena berlatarbelakang hasil istikharah sang ibu Umi ‘Aisyah.(19/08/15).

     Detik-detik sebelum masuk dan tahu tentang perkuliahan, khafidz masih santai bersandar dengan title siswa MAN Denanyar. Ketika musim promo PTN sebelum Ujian Nasional, dia dibingungkan dengan jurusan dan PTN mana yang cocok buatnya. Dilanda kebingungan yang sangat, dia curhat kepada orangtua, kawan-kawan. Alhasil dia mengajukan diri pada SPAN-PTKIN jalur akademik online. Pilihannya 1. IAIN Tulungangung jurusan IAT (Ilmu Al-Quran dan Tafsir) dan PAI 2. UIN Sunan Ampel jurusan PAI dan PAI.

     Beberapa bulan kemudian muncul pengumuman pada SPAN-PTKIN dengan kata “selamat anda lulus di ptn IAIN Tulungagung Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir”, setelah dapat pengumuman seperti itu dia juga dapat amanah untuk bertahan di pondok pesantren Mamba’ul Ma’arif, Asrama Sunan Ampel selama setahun. Akhirnya dia memutuskan atas izin dan dukungan orangtua pergi ke IAIN Tulungagung. 

     Tanggal 23-Juni-2015 dia berangkat ke IAIN Tulungagung untuk menyetorkan data syarat masuk IAIN Tulungagung. Pengumpulan data berlangsung lama karena ratusan calon mahasiswa baru berkumpul antri. Ketika itu ayahnya menunggu didepan rektoran sambal duduk ngobrol bersama ayah Karina.

     Tak lama kemudian Ospek mahasiswa baru dilaksanakan tanggal 19-08-2015, ospek bertemakan semangat kemerdekaan Indonesia. Awal ospek dia ditekan untuk berangkat pagi dengan atribut kalung rempah-rempah dan papan nama, baris berkelompok, dihiasi dengan orasi nuansa semangat kemerdekaan.

     Dua hari berjalan lancar ospek kampus namun, dihari ketiga ospek kampus mulai sedikit risau para maba, mereka protes dengan perlakuan orientasi yang menurut mereka tidak humanis. Tak lama kemudian para mababbergejolak untuk menghentikan resepsi ospek kampus dengan merobohkan podium yang dipakai orator. Dengan perlawanan yang keras mereka menginjak-injak salah satu panitia sekaligus menjadi orator ospek kampus tersebut.

     Kericuhan para mahasiswa baru berhasil diredam oleh saudara anwar yang sekarang kuliah jurusan Tasawuf Psikoterapi. Dengan teriakan yang keras dia berkata” stop rek, ojo diidek, kuwi menungso, he rek, ra usah di video, rasah di aplod, iki kampusmu rek, marai elek-eleki fakultas, kalau kalian pengen melawan panitia gunakan otak kalian,bayo sekarang kita berdamai dengan rundingan panitia, nek wes koyok ngene trus awake arep lapo, ospekke wes rusak gara-gara kalian, ayo rek saiki resik-resik, buang sampah kalian…." Setelah diredam mulai mereda emosi mereka.

     Kemudian malamnya disambung dengan penutuoan ospek kampus dengan menyakan lilin serta membawa tongkat dan capil. Penutupan diisi dengan renungan atas peristiwan naif siang tadi, perjuangan petani, serta kiat-kiat perkuliahan. Sebelum acara penutupan ditutup, ditutup dengan api unggun berasal dari tongkat para mahasiswa baru, pengumpulan capil untuk para petani. 

     Esoknya disambung dengan ospek fakultas. Dia berada dalam ospek fakultas ushuludin adab dan dakwah. Acara ini berlangsung selama dua hari. Ospek dengan tema "Teguhkan Islam Nusantara Majulah Indonesia". Ospek ini diisi tentang kiat menulis, membaca, pandangan dan analisis kritis islam nusantara, presentasi hasil diskusi per-tema, drama, puisi, bernyanyi nuansa semangat kemerdekaan.

     Kemudian ospek fakultas ini ditutup dengan nonton bareng film samin dan semen bersama sesepuh fakultas ushuludin. Setelah film berakhir diisi review film. Dilanjutkan dengan sharing diskusi tentang Profesi apa yang akan kamu peroleh di Ushuludin? , setelah itu ditutup dengan kata mutiara, jargon dan foto bersama.

     Masa awal kuliah berbeda dengan lingkungan sekolah. Lingkungan pembelajaran yang dahulu patuh pada ungkapan guru 100% tapi, dilingkungan perkuliahan, keilmuan didukung oleh bagaimana mahasiswa itu berproses, mengumpulkan data-data berupa beberapa buku, dibaca, dipadukan, didiskusikan bersama. Dosen dalam kuliah hanya sebagai pengatur jalan lingkungan pemahaman, agar mahasiswa tidak salahbpersepsi dan interpretasi.

     Awal kegiatan belajar mengajar diperkuliahan. Dia memiliki seorang kawan sejurusan bernama M. Rizal Hasani Muqorrobin. Dia tahfidz al-Quran, suka baca buku sampai faham, lihat film genre theologis, cartoon, action,horror dan, about holy Quran. Setiap hari dia berangkat bersama kuliah se-motor karena, dia kuliah tidakbmembawa motor pada mulanya. Hasan bersifat pendiam tapi dia seorang pengamat, analiser dan peneliti yang handal.

     Disenggang hari kemudian, hasan ingin pulang mengambil motornya di rumah. Dia ingin mengambilnyankarena himbauan dari kawannya Khafidz “lhah awakmu kuliah adoh mosok gak nggowo motor, gak popo se goncengan terus tapi gentian bensini, yoh san yo”, ujar khafidz. Akhirnya hasan mengajak khafidz mengambil motornya dirumahnya kiran-kira + 20 km dari IAIN Tulungagung. 

     Hawa relasi perkulihan sedikit berbeda dengan pesantren pada umumnya. Kuliah pembelajran dicampur satu ruang, pesantren terkadang dicampur terkadang dipisah, apabila dicampur dipisah dengan satir penutup. Relasi dengan lawan jenis saat kuliah biasa seperti kawan bahkan saudara sendiri, akan tetapi kalau dengan santri putri malu luar biasa. Bahkan tingkatan pengurus pusatbmasih juga canggung dengan kebiasaan rapat akbar pengurus putra-putri. 

     Khafidz masuk diniyah pada waktu lima hari setelah ospek fakultas. Sebelum berangkat diniyah, diabmendapatkan seragam dari mas zam zami yang akrab dipanggil dengan mas Jami’. Khafidz berangkat diantar oleh mas khoirul ibad untuk seleksi masuk kelas diniyah. Saat disana dia seleksi bersama Ivan Nur Aziz, waktu seleksi mereka berdua ditanya kitab apa saja yang pernah dikaji sebelum ke pondok panggung. Khafidz menjawab “saya pernah ngaji fathul qarib tapi sampai bab nikah belum selesai, muntakhobat, mabadi’ul fiqh sampai juz 4, fathul mu’in, tafsir jalalin, jurumiyah yang ditulis ulang oleh KH. Wazier Alie, Lc, dan Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah”. Kemudian Tim penguji menawarkan” yaudah, kamu isi formulir dulu dan masuk kelas 5”, tawarnya tim penguji. “nggak pak, aku belum pernah diniyah, nggak dimasukin kedalam kelas 1 ibtida’ saja pak?”, tanya khafidz. “kelas 1 ibtida’ terlalu dasar, mereka belajar menulis pegon”, ujarnya.

     Akhirnya khafidz masuk kelas 5 ibtida’. Seleksi usai dilanjutkan dengan menerima jadwal diniyah dan membeli kitab diniyah di ndalem bu nyai Asrori . saat beli kitab khafidz tidak punya cukup uang akhirnya, dengan ringan tangan Ivan Nur Aziz meminjamkan uangnya untuk membeli kitab khafidz sebesar Rp.75.500,- pada masa itu. Khafidz membeli 9 kitab di ndalem bu nyai Asrori, diantaranya : kitab washoya, kitab jenggot terjemah jazariyah, I’lal istilahi dan lughawi, syarah jurumiyah, nurul yaqin juz 3, risalah ahlu al-sunnah, jawahirul kalamiyah, arba’in al-nawawiyah, dan syarah fathul qarib. 

     Seiring kuliah ada segment presentasi dan tanya jawab terbawa dalam lingkup diniyah. Mata pelajaran fathul qarib berlangsung hari kamis malam jam 19:00-20:00. Kebiasaan santri pondok panggung adalah tunduk pada cerita dan fatwa seorang guru pada lingkup pesantren. Gurupun juga tidak membuka diri untuk membuka pertanyaan terhadap masalah internal maupun eksternal santri. Suatu ketika mata pelajaran fathul qarib ditutup oleh guru pembimbing bernama ustadz nur kholis.

     Tiba-tiba khafidz bertanya sesuatu masalah fiqih. Setelah terjawab, salah satu santri kelas 5 ibtida’ bernama Taufikqurrahman memberi masukan kepada khafidz. “fidz, ki duduk kuliah, nek kuliah iku enek presentasi, enek tanya jawab, aku mek ngelingno ae”, tambahnya Taufik. Setelah itu khafidz tidak bertanya lagi kalau tidak dibuka peluang bertanya. (kha/2/4/16).


   


Previous
Next Post »
Thanks for your comment