Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
Nama penulis adalah Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz, ia dilahirkan dari keluarga yang masih belum bisa dianggap cukup, karena kesalahan masa lalu juga perubahan persaingan ekonomi yang menjadi borjuis bagi sekitarnya. Khafidz hidup di lingkungan keluarga yang agamis. Ia memperoleh pendidikan agama dan moral dari orang tua. Sejak kecil ia tidak pernah dimasukkan ke dalam TPQ sebagai pendidikan al-Qur’an tingkat dini, tetapi diajar oleh ibu secara terus-menerus setiap menjelang maghrib. Mulai dari Iqra’, al-Qur’an, Fasholatan, Sulam Taufiq dan belajar menulis pegon sebagai bekal sebelum menginjakkan kaki di bumi pesantren.
Detik-detik bersekolah duduk di kelas 6 Madrasah Ibtida’Iyah (Sumberagung) sudah di penghujung tombak, tanda perpisahan akan datang. Tidak terasa waktu bermain dengan teman-teman sebangku akan habis. Permainan Tradisional dimainkan seperti Petak Umpet, Lempar Kelereng, Bak Jur (Obak Sodor), Macan-macanan, Dakon, Bros-brosan (Api dari lilin dikasih air liur langsung meledak), Balap Keong, Kekean (Gasing yang memiliki Paku Jalu di bawah), Tamiya, Wong-wongan (orang-orangan dianggap seakan-akan hidup dan bisa berbicara), Tok-tokan (Daun salak dipotong ujungnya, daun ditusuk berbentuk corong, tangkai kecil dibiarkan adanya, kemudian tangkai dipukulkan ke suatu media sampai berbunyi tok), Terjun Payung, dan lain sebagainya kini akan pudar sendirinya dimakan zaman dan tempat.
Suatu hari ibu (Hj. Siti Aisyah) mendekat kepada khafidz anaknya, “Nak kamu sebentar lagi akan lulus Madrasah Ibtida’iyah, terus kamu akan melanjutkan kemana?”, tanya ibu. “Tidak tahu bu”, sahut khafidz. “kamu, setelah ini harus sekolah dan mondok”, himbau ibu. “mondok itu apa?”, tanya khafidz. “Mondok itu, kamu, belajar di pesantren dan sekaligus tinggal di sana lama”, jawab ibu. “nggak mau bu, saya maunya sama Ibu dan Ayah, nggak mau pisah”, khafidz mengelak dengan ekspresi sedih dan gusar. “ini demi masa depan kamu nak, pondok itu miniatur bermasyarakat, bila kamu bisa mengatur dan bisa mandiri maka kamu bisa menaruh dirimu di masyarakat sekaligus mahir ilmu agama”, ibu meyakinkan.
Ibu setiap waktu berdiskusi dengan keluarga dan selalu berfikir kemana ia akan menaruh khafidz untuk menuntut ilmu. Ayah menghimbau ia dipondokkan di pondok tarekat, namun ibu dan saudara dari ibu menolak. Ibu mengistikharakhi dengan tiga pondok besar di Jombang, yakni pondok Denanyar, Tebuireng atau Tambakberas. Setelah sekian kali bermimpi dari istikharah yang keluar adalah Denanyar, begitu pula dengan lotre (seperti arisan) diacak tetap keluar Denanyar. Mimpi selanjutnya ibu bermimpi pondok warna hijau, putih.
Akhirnya ia dimasukan suatu pondok di desa yang mana terdiri dari pemukiman-pemukiman kecil dan sawah yang cukup luas. Tepatnya di Asrama Sunan Ampel. Selang beberapa minggu ia beradaptasi dengan lingkungan. Semakin lama dipondok semakin suram, karena tinggal dilingkungan pondok yang penuh dengan kejadian kriminalitas. Seperti pemalakan kebutuhan sehari-hari, penjebolan almari bagi yang pelit atau tidak disukai senior, pencurian, ghosob, mbladas (mbolos tanpa izin dan sepengetahuan), peminum minuman keras, asusila, bertengkar, memperbudak santri baru atau yang lemah, mencoret, merusak fasilitas pondok dan suka mencaci.
Namun kerasnya cobaan bukan menjadi pelemah santri menuntut ilmu, melainkan ujian akan berhasil. Ibu berkata kepada khafidz “nak, bila kamu bisa melewati semua ujian ini dan belajar dengan sungguh-sungguh, kelak engkau akan berhasil menuainya. Innallaha ma’as shabirin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, jika kamu mengeluh, maka wala tai asu min rauhillah…, orang yang berkelu-kesah atau berputus asa, maka ia akan terputus dari rahmat Allah, jika kamu putus asa, mondok kamu terputus maka Allah tidak akan memberi rahmat kepadamu. Jika ada yang mencacimu biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu. Oleh karena itu jangan sampai niat kamu menuntut ilmu sampai tergoyahkan, apapun yang terjadi hadapi dengan sabar, kami selalu mendukung dan mendo’akanmu.”
Sudah dua tahun berjalan menuntut ilmu, prinsip yang tertanam dalam hati khafidz adalah apapun yang terjadi aku harus masuk dan menjadi yang terbaik apapun yang terjadi. Tidak perduli hujan deras, sakitnya dicaci, beratnya pundak saat belajar ia tetap memantapkan diri dan percaya diri seakan tidak boleh ada yang mahir diatasnya. Setiap malam taqarrub, berdzikir, dan berdo’a agar menjadi yang terbaik. Ia membayangkan dirinya seakan disinari Allah dan ia dapat meraih bintang paling besar yang ia impikan. Khafidz menggambarkan jika wajah rasul bagaikan rembulan, maka jadikan aku bintang yang paling terang diantara semua bintang.
Tak disangka-sangka, ia ditengah penghujung ia mendapatkan Bintang Pelajar LBAI (Lembaga Bahasa Arab dan Inggris) disaat teman-temannya menjadi ranking pertama di lembaga. Dengan pakaian tak berseragam bersandal japit ia dengan menahan rasa malu naik panggung. Disampung itu ia juga merasa bahagia karena mendapatkan bintang pelajar yang tidak disangka-sangka.
Ujian Negara tidak dirasa sudah mendekat, tanda ujian beruntun akan datang menghampiri. Berbagai pengajaran tentang mata pelajaran UN dan Ujian Madrasah lebih ditekankan. Waktu belajar ditambah, yang mulanya pulang pada jam setengah dua siang kemudian menjadi jam tiga.
Tubuh lemas, ngantuk dipaksa untuk belajar dan belajar. Akan tetapi masalah ujian nasional dan ujian sekolah bukanlah masalah pokok bagi khafidz, hal ini dikarenakan tidak ada ghirah untuk bersekolah dan belajar di MTS dengan pendidikan yang monoton. Namun hanya pendidikan bahasa arab dan ilmu agama yang lebih ia sukai, sehingga mata pelajaran umum-pun terbengkalai olehnya. Hal yang seperti ini tidak patut ditiru oleh semua santri.
Di samping itu khafidz semakin membara dan bersemangat untuk selalu belajar tentang bahasa Arab dan Inggris di LBAI. Terdapat Rival perempuan yang bernama Widya Jazilatul Faiqoh, ia sangat pintar sedari pertama kali masuk LBAI. Pada saat MOS (Masa Orientasi Santri) di LBAI, saat KH. Zainal Abidin Abu Bakar bercerita dengan bahasa Arab dan Indonesia, yang menyahut respon tentang bahasa arab Khafidz dan Jazil. Dikira Jazil sudah menginjak Madrasah Aliyah oleh Khafidz karena postur tubuh tinggi, cantik dan pintar. Ketika MOS ternyata ia sekelompok dan sekelas dengan Khafidz.
Sejak kelas dua pertengahan muncul seseorang yang mana dipacokin (dijodoh-jodohin dengan olok-olok teman). Tanda suka sudah terdapat pada benak Rini Yulia Maulidah. Bermula dengan memasukkan Facebook Qoyyim El Khafidz ke dalam grub RMBI (Rintisan Madrasah Bertaraf Internasional- kelas pilihan MTsN Denanyar). Kemudian bertahap dengan salam-bersalam dia kepada khafidz perantara temannya. Khafidz hanya menanggapi dengan biasa tanpa ekspresi. Hal ini dikarenakan ia masih merasa kecil, pendek dan masih belum cukup umur untuk menyandang gelar suka kepada lawan jenis.
Akhir kelas tiga Khafidz mulai memberanikan diri membawa Handphone Cekitet (Hp tombol) merek Cross Gg58t. Ia mulai berani smsan dengan Rini. Dengan bersandar posisi mau Aliyah ia mulai memberanikan diri untuk bertemu dengan Rini. Rini meminta bantuan kepada Khafidz lewat sms. “Fidz tolong sambang aku ya penting, buatin air panas!” minta Rini. “iya rin, buat apa?”, tanya khafidz. “Pokoknya bawakan!”, Rini sedikit memaksa. Khafidz pun memberanikan diri membawa air panas dan menyambang Rini.
Khafidz masuk pada sambangan pondok Sunan Ampel Putri. Dari luar gerbang terlihat mbak pondok, langsung khafidz memanggil mbaknya. “Mbak tolong panggilkan Ririn, Rini Yulia Maulidah”. Panggilan pertama salah orang masuk ruang sambangan, panggilan kedua Rini baru datang. Ia datang dengan senyum dengan membawa kresek kecil. “Fidz, mana air panasnya?”, tanya Rini. “Ini Rin!”, sahut Khafidz sambil menunjukkan air panas bertadah botol aqua besar. Rini pun terkaget dengan ekspresi lucu melihat botol besar berisi air panas yang melelehkan tutupnya. Rini bertanya, “Fidz kok banyak banget airnya, padahal air ini hanya saya buat memasak mie”. Khafidz mengelak, “Lah kamu tak bercakap dulu sebelum meminta alasannya buat apa air ini.” Rini menjawab, “Iya deh nggak papa!.” Rini pun mengeluarkan sesuatu dari kresek hitam kecil berisikan Pop Mie rasa Baso dan Ayam. srek, srek, srek suara kresek berbunyi. “Fidz milih ini apa ini?”, sambil mengangkat mie yang ia keluarkan dari kresek hitam kecil. Khafidz menyahut dengan ekspresi senyum malu yang sedikit menahan pandangan ke wajahnya karena jarang melihat wajah bukan mahram, “terserah kamu rin.” Rini mengambil rasa baso dan diberikan kepada Khafidz dengan senyum manisnya yang mengisi nuansa romantika pesantren.
Usai dari sambangan khafidz berpamitan kepada Rini dan kembali ke kamarnya yang cukup luas, berpetak lima kali dua puluh meter berpenghui dua puluh orang. Khafidz disambut dengan nuansa gembira dan malu oleh teman-teman dari kamar Maliki. Terdengar sorak-sorak dari balik pintu kamar, “Cie Khafidz, cie habis nyambang rini, cie-cie”. Khafidz tidak kuasa menutup rasa bahagianya lewat ekspresi kinesik dan raut muka kepada teman-temannya.
Waktu telah memangsa masa, ujian telah dimulai. Khafidz telah disibukkan dengan memikirkan Rini sebagai separo hati darinya dan separo untuk rival keilmuan bahasa di sekolah sore LBAInya. Ternyata hasil tak membohongi proses, khafidz selalu menepuk LBAI sehingga ia mendapatkan ketegori ranking kedua dipenghujung kelas tiga tingkat MTs. Di sisi lain ufuk barat ia menyibukkan diri memikirkan Rini sampai ia terlupa dengan kewajiban belajar soal ujian MTsN Denanyar hingga ia mendapatkan penurunan ranking yang cukup merosot dari tujuh ke rangking lima belas.
3 komentar
Click here for komentarBagus dan menarik
ReplyConversionConversion EmoticonEmoticon