(Sesembahan tulisan buat grub al Erory)
Oleh: Mohammad Dinul Qoyyim Al Khafidz
Perkenalkan namaku khafidz biasa di Tulungagung dipanggil kang khafidz. Sebutan khas oleh cah Tulungagung. Panggilan khafidz adalah panggilan yang ku suka, soalnya panggilan itu sering dipakai oleh orang penghafal al-Qur’an, meskipun sebenarnya panggilan oleh penghafal disebut dengan al hamil (pembawa/ hafal al-Qur’an). Sebutan Qoyyim sering dipakai oleh teman-teman se jawat di Jombang. Sedangkan sebutan Din atau Dinul lebih suka dipanggil oleh KH. Wazier Alie, Lc sebagai panggilan khas dari Beliau.
Hobi ku yang mencolok adalah bernyayi dan bermain musik, Khususnya al-Banjari. Aku mulai mengenal al-Banjari di Asrama Sunan Ampel, Yayasan Pon. Pes. Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. Sekilas aku melihat, “apa itu banjari?, cuman glotangan risih ditelinga (isyarat gak enak di dengar), masih enak dangdut bisa dinikmati”, ujarku sebagai pecinta Shalawat langitan, dangdut dan campur sari. Lama kelamaan, rasa ini menjadi suka. Katanya orang jawa “Tresno jalaran songko kulino.”
Hari pertama di Asrama Sunan Ampel, aku disambut sedih, karena dipaksa oleh Mas Deva (Gus Pondok Nganjuk) yang sekarang menjadi penabuh Grub Nasa dan IQMA Surabaya untuk bernyayi. Sekilas katanya enak, memang suaraku dulu kecil, lembut meliuk, karena memang aku tercipta takut cewek, melihat wajah aja gak berani, apalagi pacaran (hahaha, canda). Anehnya namanya santri baru OSSA (Ospek Santri Sunan Ampel) aku malah ngisi pra-acara dengan musik banjari lagu Qolbiyunadi dengan para santri senior. Dua tahun kemudian, mas Deva membentuk grub banjari namanya Nurul Qolbi (Grubnya para anak kecil) aku jadi vokal lagu Lailaha dan Qolbiyunadi.
Dua tahun lagi aku di rekrut oleh grub Syarofal Habib dengan adik saya Fahruddin. Aku posisi menjadi suara bass. Grub ini terpaksa dibuat karena untuk menjunjung nama Asrama Sunan Ampel di Yayasan Mamba’ul Ma’arif sebagai The Master of Banjari di Bumi Denanyar. Setelah enjoy ikut, tak terasa udah waktunya keluar dari Pondok Pesantren yang sekarang pindah di Tulungagung.
Tulungagung marak dengan banyaknya grub Al Habsy, habsy disini berbeda dengan banjari, memang alatnya sama, yakni pakai terbang. Akan tetapi ada beberapa perbedaan. Diantaranya terdapat alat chalti, darbuka, bass, tam, keplak dan jumlah penerbang yang disyaratkan cukup banyak pemain empat lebih. Terlebih tabuh hadroh memiliki rumus dan variasi yang berbeda, dan power terbang yang tidak diharuskan keras dan kuat. Vokal biasanya cuman tiga. Berbeda dengan al-Banjari memiliki vokal harus lima.
Di Tulungagung tepatnya Pondok Pesantren Panggung, aku diikutkan oleh mas Ojan (Adib) sebagai vokal, karena aku kepergok sering pujian di mikrofon. Mereka terlalu enjoy dengan pujian aneh-aneh yang saya bawa. Nama grub yang saya ikuti al-Asrori. Usut diusut, aku mulai bosan, dan jarang latihan, soalnya para tetua grub al-Asrori pada acuh keluar dari grub, mereka disibukkan dengan kesibukan masing-masing.
Tak lama kemudian di Fakultas Adab dan Dakwah IAIN Tulungagung, aku dikenalkan dengan grub Fajrul Ummah, tak kusangka ini merupakan grub satu-satunya di fakultas. Alirannya habsi. Disitu aku ingin belajar nabuh dan vokal, eh ternyata, aku malah sering protes karena tidak cocok, dan merasa tidak mendapatkan tambahan variasi dan ilmu tentang habsi. Ilmu habsi saya dapat oleh teman sejawat saja pas latihan. Anehnya saya malah disuruh ngatur dan mengelesi (mengajar maksudku) teman-teman. Disitu aku bertemu dengan orang-orang hebat, ada cewek yang tidak bisa suara 2 tapi bisa suara tiga, ada penabuh grub terkenal aurora dan habsy, ada vokal al-Asyieq dan lain-lain. Mereka bubar karena tidak ada yang memanajemen latihan rutin yang kompak. Rata-rata alumni Fajrul Ummah diluar kandang mereka menjadi orang sukses. Aku keluar, namun aku meninggalkan kenangan Festival Shalawat Juara 2 se-IAIN Tulungagung.
Tak lama kemudian, aku diikutkan grub Fajrul Ummah Banjari, ini saja inisial dari yahya. Sehingga aku mengikutinya. Disitu aku bermain dengan kang Minan dan Indra. Teman yang ngerameni pondok setiap pagi dan sore (membuat berisik). Setiap hari belajar variasi. Alhasil kita mendapatkan juara 1 se-Tulungagung. Setelah lomba aku keluar lagi, karena grub itu memang dibuat untuk lomba saja.
Seling beberapa tahun, aku mulai ditarik teman pernah se—grub Fajrul Ummah namanya permata (Intan Ainy Nur Hidayah maksudku), ia mengajakku untuk belajar bersama dengan grub Manajemen Dakwah, aku lupa namanya. Awalnya sih aku diajak, tetapi aku kayaknya nggak bisa, soalnya ada utusan untuk menyeting dan mencetak laporan PPM Jurusan IAT di Jakarta. Aku hanya membenarkan yang belum pantas di dengar, menambahkan apa yang pantas menurutku (egois banget kamu hehe). Setelah mereka tampil aku bertepuk tangan dalam hati, meskipun ada yang tergores, Permata tidak ada, ia kunci suara soalnya, yang bisa bikin telinga terkagum-kagum.
Terlihat di Gedung Pascasarjana ada acara, sejenis tentang motivasi dan seminar tentang bahasa arab, aku tidak tahu tentang apa, soalnya tidak ada mutarjimnya (penerjemahnya). Memang bagus sih latihannya, lagunya ter update, sayangnya aku nggak tahu lagunya banyak yang baru, so... aku dan teman-teman sebelah cuman pakai alunan habsy feeling sepantasnya. The best lah pokoknya, acaranya orang besar kami yang mengisi (Grub Rea-reo). Tapi pas ditanya “grub apa ini?.” “grub Fajrul Ummah”, ujar mas Yahya. Gak tau beneran apa nggak, ya biar terlihat eksis hehe.
Terakhir, pastinya inti dari judul ini, atas cuman pemanis, seperti ayam geprek tanpa sambel bawang hambar rasanya. Ini grub saya kurang tahu penggagasnya. Tapi khusnudzon aja, @hiclan anbu atau biasa dipanggil mas Tabik (Hikam) sebagai penggiring atas nama Pon. Pes. Panggung. Grub ini terbentuk katanya karena ada undangan ikut lomba di Ngantru se-Karisidenan. Fee jelasnya lumayan murah, cuman 100k (menurut kita, kan nggak bayar hehe). Aku sedikit kudet soal grub ini, soalnya mereka udah sering diskusi dan latihan, antara penabuh dan vokal, sedangkan aku H- berapa gitu.
Setiap malam habis isya’ latihan di gazebo kampus (tempat duduk santai melingkar). Para cowok membawa terbang dari pusar Tulungagung (alun-alun maksudku). Dengan beberapa tas tenteng bersarung, sungguh terlihat sholeh (alhamdulillah). Kami latihan bersama lengkap dengan alat hadrah al-Banjari. Saya kira pas latihan aku udah menerima hasil jadi baik variasi dan lagu, eh ternyata masih meraba baju (maksudku mencari gaya yang unik dan pas menurut hati kita). “Vokal latihan silih berganti, daun gugur runtuh menunggu masanya” (alah terlalu puitis, buang sifat puitismu hhh, itu udah permainan masa pegang hp cikitet). Maksudnya ialah, vokal sering berganti pas latihan, eh ternyata tanggal berubah dan kami menjadi power ranger hehe. Kita mengganti vokal yang tidak bisa tampil dengan vokal yang lain.
Dag dig dug, dengan PD kita naik panggung kehormatan. Kita membawa jinggle susu nasional. Bayangin aja liriknya seperti ini.
“Pemuda yang hebattt.....”
“Memperingati Maulid Nabi”
“Bersama Kami Pemuda-pemudi”
“Sumber di Musholla Baitus Salaaaaamm...”
“Dengan Kami El Asrory.... tektek dung. Dung”
Pas diatas kami mendapat gangguan dedemit yang nyata (lebay). Kami merasa ada keanehan diluar rencana kami. Ada yang bilang microphone Diyak mati, vokal ada yang lupa lirik, mic terbang golongan lanang gak terdengar, golongan wedok pindah rumus, inti ada yang lupa, bass mik berat dan eror tidak ada suara di sound control depan kami. Sungguh diluar dugaan. Sadis ternyata lomba itu(lebay). Aku kira malam itu hening, hening itu sepi, kalau sepi serasa syahdu, seperti sujud di sepertiga malam (lak puitis).
Habis lomba kami pun turun dengan membawa awan hitam dan halilintar haha. Saling gemuruh membicarakan kesalahan masing-masing. Bercakap sambil berjalan, kami menuju tempat duduk kami. Panitia menggiring ke tempat hidangan. Dengan oseng-oseng kates pedas dan opak (bahasa jombang krupok, indonesianya krupuk) kami menikmati hidangan.
Sesi terakhir, kita berfoto penuh gaya, terlihat sekitar tidak ada seunik kami. Kami saling canda dan ramai karepe dewe haha. Sekilas beban kesurupan diatas panggung udah hilang terbawa oleh batu akik yang dipakai dewan juri (lebay sih). Kami berdiskusi terakhir, apakah grub ini diteruskan atau hanya sebatas kenangan yang terlintas. Alhasil kita samara (sakinah mawaddah wa rahmah), kita dijodohkan untuk meneruskan pinangan menuju ke pelaminan cie. Pokoknya the best buat kalian. (kha/29Des18/Wrote3Jan19)
ConversionConversion EmoticonEmoticon